JAKARTA – Keterlibatan masyarakat dalam bursa karbon memperlihatkan kecenderungan yang meningkat sepanjang 2025. Lewat platform IDX Carbon serta PTPN Carbon Hub, masyarakat tercatat sudah menyerap 5.202 ton setara karbon dioksida (tonCO2e) dari proyek energi baru terbarukan kepunyaan PTPN IV PalmCo.
Data internal korporasi memperlihatkan volume serapan itu berasal dari 335 transaksi yang dijalankan perorangan maupun badan usaha sejak pencatatan perdana di Bursa Karbon Indonesia pada 20 Mei 2025. Sementara itu, transaksi pembelian riil perdana berlangsung pada 29 Juli 2025 dan pencatatan akumulatif dirampungkan pada 31 Desember 2025.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengutarakan, kecenderungan ini mencerminkan naiknya kepedulian masyarakat untuk andil langsung dalam aktivitas reduksi emisi.
“Dulu isu perdagangan karbon identik dengan korporasi besar. Sekarang masyarakat juga mulai mengambil peran dalam menyeimbangkan jejak karbon dari aktivitas sehari-hari,” ungkap Jatmiko dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).
Menurut Jatmiko, semua unit karbon yang dilepas melalui platform itu bersumber dari proyek yang telah terverifikasi serta memiliki basis operasional konkret di lapangan. Dua proyek utama yang menjadi basis kredit karbon tersebut ialah pengolahan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) pada fasilitas Biogas Co-Firing di Pabrik Kelapa Sawit Lubuk Dalam, Riau, serta Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Proyek ini mendayagunakan gas metana dari limbah cair sawit untuk diproses menjadi energi baru terbarukan. Selain mereduksi emisi gas rumah kaca, pola ini juga dinilai memperkuat implementasi ekonomi sirkular pada sektor perkebunan kelapa sawit.
Merujuk data perusahaan, dari total 5.202 tonCO2e yang sudah diserap publik, sebanyak 2.111 tonCO2e telah resmi di-offset lewat Sistem Registri Nasional (SRN). Proses offset dijalankan secara berkala dengan fasilitasi PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) selaku pengelola platform serta sokongan Pertamina New & Renewable Energy.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya pun memasukkan proyek biogas kepunyaan PTPN IV PalmCo sebagai salah satu langkah mitigasi yang menyokong target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dan diperjualbelikan via Bursa Karbon.
Jatmiko memandang capaian ini menjadi penanda bahwa skema perdagangan karbon mulai diterima publik lantaran dinilai lebih terbuka dan gampang diakses.
“Setiap unit karbon yang dibeli memiliki underlying project yang jelas. Masyarakat bisa mengetahui langsung sumber pengurangan emisinya sehingga kepercayaan terhadap mekanisme ini ikut tumbuh,” katanya.
Secara teknis, volume serapan emisi sebesar 5.202 tonCO2e disebut sebanding dengan penanaman dan perawatan berkisar 86.000 bibit pohon selama 10 tahun. Nilai tersebut juga setara dengan pemangkasan emisi dari sekitar 1.130 mobil penumpang dalam setahun.
Sejumlah peserta menyatakan mulai melihat offset karbon sebagai bagian dari tanggung jawab personal terhadap kelestarian lingkungan. M Ansori Nasution, salah seorang pembeli kredit karbon eceran, menyebutkan akses pembelian yang tersambung instan dengan proyek energi terbarukan membuat masyarakat lebih percaya akan dampak riil yang didapatkan.
“Sebagai individu, ada kesadaran untuk ikut menyeimbangkan jejak karbon. Yang penting, proyeknya jelas dan memang menghasilkan pengurangan emisi,” sebut Ansori.
Tanggapan serupa dituturkan Devanda Faiqh Albyn. Menurut Devanda, kaum muda mulai memandang keterlibatan pada perdagangan karbon sebagai wujud investasi lingkungan jangka panjang.
“Isu perubahan iklim sekarang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika ada instrumen yang memungkinkan publik ikut mendukung proyek energi bersih secara langsung, tentu itu menjadi hal positif,” katanya.
Pemerintah mematok target pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2050. Dalam hal tersebut, kontribusi sektor perkebunan dan energi baru terbarukan diproyeksikan menjadi salah satu pilar krusial transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.