JAKARTA – Harga komoditas minyak mentah melonjak signifikan hingga 6 persen sementara nikel dan timah terpantau mengalami penurunan tipis di pasar global.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama yang mendorong kenaikan tajam pada harga energi dunia ini.
Kenaikan harga tersebut tercatat pada jenis Brent yang kini bertengger di level 78,05 dolar AS per barel.
"Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Iran," ujar analis komoditas, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Selasa (28/4/2026).
Pihak pasar saat ini memang sedang mengantisipasi serangan balasan yang mungkin menyasar infrastruktur energi vital.
Analis tersebut berpendapat, jika serangan benar-benar menyasar fasilitas produksi minyak maka harga bisa menyentuh angka 100 dolar AS per barel dalam waktu dekat.
Sementara itu sektor logam dasar justru menunjukkan tren yang berlawanan dengan komoditas energi.
Harga nikel di London Metal Exchange tercatat menyusut 0,3 persen menjadi 17.495 dolar AS per ton.
Timah juga mengalami nasib serupa dengan penurunan sebesar 0,2 persen ke angka 32.850 dolar AS per ton.
Sentimen negatif dari perlambatan aktivitas manufaktur di beberapa negara besar menjadi beban bagi harga logam.
Permintaan global yang belum pulih sepenuhnya membuat investor cenderung melepas aset di sektor pertambangan tersebut.
Keseimbangan pasar komoditas saat ini sangat bergantung pada perkembangan situasi politik internasional dan kebijakan moneter Amerika Serikat.