Limbah Bisa Jadi Profit? IRMAPALA SMA Muhammadiyah 25 Pelajari Ekonomi Karbon

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Rabu, 17 Juni 2026
Limbah Bisa Jadi Profit? IRMAPALA SMA Muhammadiyah 25 Pelajari Ekonomi Karbon
IRMAPALA SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang mengikuti kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Jakarta Convention Center. (Sumber Foto: NET)

PAMULANG  - Limbah selama ini dianggap sebagai pemicu pencemaran lingkungan dan beban biaya pengelolaan yang tinggi. 

Namun, paradigma tersebut berubah bagi anggota Ikatan Remaja Muhammadiyah Pecinta Alam (IRMAPALA) SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang setelah menghadiri peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan bertema “Mengubah Beban Menjadi Berkah: Standarisasi Teknologi Air Limbah Sebagai Mesin Baru Nilai Ekonomi Karbon” ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, akademisi, praktisi lingkungan, komunitas, hingga pelajar.

Forum tersebut mengajak para peserta memahami bahwa pengelolaan air limbah bukan sekadar menjaga kualitas lingkungan, melainkan berpotensi menciptakan nilai ekonomi lewat pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan energi terbarukan.

Bagi para pelajar, tema ini menjadi perspektif baru dalam memandang isu lingkungan. Jika biasanya limbah dikaitkan dengan polusi, kini peserta diperkenalkan pada teknologi yang mampu mengolah limbah menjadi sumber energi sekaligus peluang ekonomi.

Pemahaman tersebut sangat relevan dengan perhatian global terhadap perubahan iklim. Sektor pengelolaan limbah kini dipandang sebagai bidang strategis untuk mendukung target pengurangan emisi sekaligus menghasilkan nilai ekonomi melalui mekanisme karbon.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, Arif Budianto, menilai keterlibatan siswa dalam forum ini adalah pengalaman berharga untuk memperluas wawasan dan kepedulian lingkungan.

“Dalam forum itu mereka mendapatkan kesempatan yang baik untuk memperluas wawasan mengenai tantangan dan solusi lingkungan. Kami berharap mereka dapat menjadi bagian dari perubahan yang membawa semangat pelestarian lingkungan di sekolah maupun masyarakat,” ujarnya.

Menurut Arif, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya berbasis teori. Siswa perlu berinteraksi langsung dengan praktisi dan pembuat kebijakan agar memahami penanganan persoalan lingkungan di lapangan.

Salah satu peserta, Ibrahim Saleh, Ketua IRMAPALA SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, memperoleh wawasan baru mengenai manfaat ekonomi dari pengelolaan limbah. 

Sebelumnya, ia menganggap Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) hanya fasilitas yang memerlukan biaya operasional tinggi. Kini, ia memahami sistem tersebut jauh lebih bermanfaat.

“Selama ini kami sering menganggap IPAL hanya sebagai beban ekonomi. Padahal, jika teknologinya dikelola dengan baik, sistem tersebut dapat menghasilkan keuntungan ekonomi melalui pemanfaatan gas metana dan mekanisme ekonomi karbon,” kata Ibrahim.

Menurutnya, gas metana dari hasil pengolahan limbah berpotensi menjadi sumber energi. Selain mengurangi pencemaran, pemanfaatan gas tersebut berkontribusi pada pengurangan emisi karbon yang bernilai dalam skema perdagangan karbon.

Ibrahim juga menekankan pentingnya standarisasi teknologi. Manfaat lingkungan dan ekonomi tidak akan maksimal tanpa sistem pengukuran dan pelaporan yang terstandar.

“Teknologi yang digunakan harus terstandar dan didukung data yang terukur. Dengan begitu, manfaat pengurangan emisi yang dihasilkan dapat diakui dan berpotensi memberikan nilai ekonomi,” jelasnya.

Selain materi, para siswa terlibat diskusi mengenai inovasi pengolahan limbah dan peran generasi muda dalam pembangunan berkelanjutan. 

Bagi IRMAPALA SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, kegiatan ini memperkaya wawasan serta memperkuat komitmen menjaga kesadaran lingkungan.

Pengetahuan ini diharapkan menjadi bekal untuk mendorong inisiatif pelestarian di sekolah dan masyarakat. Para siswa belajar bahwa dengan teknologi dan pengelolaan yang tepat, beban dapat berubah menjadi sumber manfaat untuk masa depan yang berkelanjutan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua