Peluang Cuan Karbon Bambu: Solusi Hijau Menteri Jumhur Hidayat

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 15 Juni 2026
Peluang Cuan Karbon Bambu: Solusi Hijau Menteri Jumhur Hidayat
Menteri LH, Moh. Jumhur Hidayat. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (LH) tengah memacu transformasi ekonomi berbasis alam dengan mengoptimalkan tanaman bambu. Menteri LH, Moh Jumhur Hidayat, mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan penanaman bambu secara masif.

Ia memproyeksikan inisiatif ini sebagai langkah strategis untuk memulihkan ekosistem, sekaligus membuka peluang pendapatan baru melalui pasar karbon.

Menurut Jumhur, bambu memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai instrumen konservasi alam dan komoditas bernilai ekonomis tinggi dalam skema perdagangan karbon yang sedang dikembangkan pemerintah.

Menteri Jumhur Hidayat Sebut Bambu sebagai Instrumen Carbon Offset Industri

Dalam penjelasannya pada acara Sarasehan “Gerakan Menanam Bambu Nusantara 2026” di Cibinong, Bogor, Minggu (14/6/2026), Jumhur memaparkan bahwa bambu adalah komponen vital dalam mekanisme perdagangan karbon.

Skema ini memungkinkan sektor industri yang menghasilkan emisi melampaui ambang batas untuk melakukan kompensasi via proyek penghijauan.

“Jika proses industrialisasi menghasilkan emisi di luar ambang batas, maka emisi tersebut wajib di-offset. Caranya adalah dengan penanaman vegetasi yang mampu menyerap kembali karbon tersebut,” papar Jumhur.

Kapasitas bambu dalam menyerap polutan udara ini nantinya akan dikalkulasi menggunakan metodologi khusus. Setelah melalui proses verifikasi, hasil pengurangan emisi tersebut akan dikonversi menjadi sertifikat karbon yang memiliki nilai ekonomi, serta dapat dijual di pasar karbon domestik maupun internasional.

Keuntungan Ganda bagi Masyarakat dan Lapangan Kerja Baru

Harapannya, implementasi ekonomi hijau ini memberikan dampak finansial langsung kepada warga. Masyarakat tidak sekadar memperoleh keuntungan dari hasil panen budidaya bambu, tetapi juga mendapatkan insentif dari nilai karbon yang dihasilkan tanaman tersebut.

“Pohonnya tetap lestari, namun masyarakat mendapatkan penghasilan. Ada dua sumber pemasukan, dari penjualan hasil budidaya bambu dan dari nilai ekonomi karbonnya,” tambah Jumhur.

Selain itu, Menteri Jumhur Hidayat meyakini inisiatif ini akan menciptakan banyak lapangan kerja baru yang ramah lingkungan atau green jobs.

Mengatasi 12,4 Juta Hektare Lahan Kritis

Urgensi penanaman bambu ini juga didasari oleh kondisi lingkungan nasional. Saat ini, Indonesia tercatat masih memiliki sekitar 12,4 juta hektare lahan kritis yang memerlukan rehabilitasi mendesak.

Pemilihan bambu didasarkan pada keunggulannya dalam memperbaiki kualitas tanah serta menjaga stabilitas Daerah Aliran Sungai (DAS).

Menteri Jumhur Hidayat menargetkan gerakan ini mampu mendorong penanaman hingga ratusan juta rumpun bambu di seluruh penjuru negeri secara berkelanjutan.

Demi menyukseskan Gerakan Menanam Bambu Nusantara 2026, Menteri LH tersebut mengajak para aktivis lingkungan, komunitas, serta pengusaha untuk mulai menyiapkan pembibitan dalam skala besar. Ketersediaan stok bibit yang memadai menjadi kunci agar program rehabilitasi lahan kritis ini berjalan optimal saat gerakan nasional dimulai secara serentak.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua