Guru Besar Baru UMM Berikan Solusi Energi hingga Deteksi Anemia

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 12 Juni 2026
Guru Besar Baru UMM Berikan Solusi Energi hingga Deteksi Anemia
Empat Guru Besar baru UMM resmi dikukuhkan sebagai langkah strategis pengembangan riset multidisiplin. (Sumber Foto: NET)

MALANG - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi mengukuhkan empat Guru Besar baru di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III pada Kamis, 11 Juni 2026. 

Peristiwa ini menjadi langkah strategis universitas dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin. Pengukuhan ini mempertegas komitmen berkelanjutan UMM dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif bagi kemaslahatan masyarakat serta kemandirian bangsa.

Pada orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan riset mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan guna menghadapi ancaman krisis lingkungan. Ia menekankan bahwa metode estimasi hidrologi presisi sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional. 

“Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto.

Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. memperkenalkan terobosan teknologi deteksi dini anemia non-invasif tanpa jarum suntik. Inovasi ini memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata yang dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan. 

“Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tutur Lailis.

Prof. Dr. Machmud Effendy, M.Eng. menyoroti urgensi transisi energi melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan. Ia menyatakan bahwa ketergantungan pada energi fosil mengancam kesetabilan ekonomi makro nasional. 

“Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun. Juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud.

Terakhir, Prof. Ir. Henik Sukorini, MP, Ph.D, IPM. menekankan pentingnya beralih ke sistem pengendalian hayati untuk memulihkan kerusakan tanah tropis akibat pestisida kimia. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit). Sehingga perlu seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kami yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik.

Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menyatakan bahwa penambahan guru besar ini memperkuat peran UMM sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak bagi peradaban, sembari mendorong seluruh sivitas akademika untuk terus menghidupkan ekosistem riset yang membumi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua