Kreasi Mahasiswa: Ubah Air Laut Jadi Air Minum di Pulau Bone Rate

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 12 Juni 2026
Kreasi Mahasiswa: Ubah Air Laut Jadi Air Minum di Pulau Bone Rate
Tim mahasiswa Universitas Bosowa hadirkan teknologi Reverse Osmosis bertenaga surya untuk mengolah air laut menjadi air minum di Pulau Bone Rate. (Sumber Foto: NET)

YOGYAKARTA - Di Pulau Bone Rate, Kabupaten Kepulauan Selayar, mendapatkan air bersih merupakan tantangan besar bagi warga. Intrusi air laut menyebabkan kualitas air tanah menurun drastis, sehingga sebagian masyarakat harus menyeberangi pulau demi memperoleh air yang layak.

Menanggapi permasalahan tersebut, tim Program Mahasiswa Berdampak dari Universitas Bosowa menghadirkan solusi pengolahan air bersih melalui teknologi Reverse Osmosis (RO) bertenaga surya. 

Inovasi ini dipresentasikan dalam Seminar Dampak Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan di Yogyakarta.

Dosen pendamping tim, Jusril Akrim, menuturkan bahwa Pulau Bone Rate dipilih karena keterbatasan akses listrik dan air bersih. Pulau terluar di Sulawesi Selatan ini berkarakteristik atol, sehingga intrusi air laut menjadi masalah utama.

“Lokasi ini tidak memiliki infrastruktur listrik dari PLN, sementara sumber air bersih sangat terbatas akibat intrusi air laut karena karakteristik pulaunya berbasis karang atau atol. Karena itu, kami memanfaatkan energi matahari yang melimpah untuk menggerakkan teknologi Reverse Osmosis agar air yang sebelumnya tidak layak konsumsi dapat diolah menjadi air bersih yang aman untuk diminum,” ujarnya.

Sistem ini menggunakan panel surya sebagai sumber energi utama untuk menjalankan proses filtrasi. Air baku yang semula asin dan keruh diproses hingga memenuhi standar air minum Permenkes. 

Selain penyediaan air, warga kini mengelola hasil produksi tersebut sebagai unit usaha mandiri demi keberlanjutan program. Sebanyak 25 mahasiswa terlibat dalam proyek ini, mulai dari tahap perancangan, instalasi panel surya, hingga pemasangan sistem filtrasi di lapangan.

Salah satu mahasiswa, Muhammad Akbar, bahkan tinggal di pulau tersebut selama dua bulan untuk mendampingi instalasi sekaligus memberikan edukasi kesehatan dan sanitasi bagi warga.

“Hasil seminar tadi menunjukkan bahwa masyarakat benar-benar merasakan manfaat yang dari kehadiran tim mahasiswa. Harapan kami, program seperti ini dapat terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal yang merasakan dampaknya,” kata Akrim.

Keberhasilan di Pulau Bone Rate membuktikan bahwa inovasi sederhana yang berbasis pada kebutuhan nyata masyarakat mampu meningkatkan kualitas hidup warga di wilayah terpencil secara signifikan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua