Pemkot Malang Kaji Kendaraan Listrik Usai Pertamax Naik
MALANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, Jawa Timur, sedang menimbang opsi penggunaan kendaraan listrik (EV) untuk operasional kedinasan, sebagai langkah meredam lonjakan biaya akibat kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Sekretaris Daerah Kota Malang, Erik Setyo Santoso, di Kota Malang, Jawa Timur, menjelaskan bahwa pihak pemkot mulai menganalisis peluang peralihan armada dinas yang sebelumnya berbasis BBM ke tenaga listrik.
"Pastinya menyikapi hal ini dengan memformulasikan opsi untuk kendaraan dinas yang basisnya BBM menjadi listrik, kami sedang kaji," kata Erik.
Erik mengungkapkan bahwa diskusi internal sedang berjalan untuk menetapkan mekanisme pengadaan EV, baik melalui skema pembelian langsung maupun sewa. Selain itu, armada dinas konvensional saat ini berpeluang untuk dijual secara bertahap atau sekaligus. Pemkot Malang masih menghitung kebutuhan anggaran sebelum mengambil keputusan, sembari mempelajari spesifikasi dari berbagai produsen kendaraan listrik.
"Jadi begini apabila ada case seperti ini kami melakukan pemodelan, sedang disimulasikan angka investasinya berapa dan penghematannya yang bisa dilakukan bisa meng-cover kenaikan ini atau tidak. Kalau soal ketersediaan SPKLU dengan PLN tak ada masalah," ujar dia.
Di samping itu, Erik mengutarakan bahwa sebagai strategi menekan biaya operasional imbas mahalnya Pertamax, jajaran pemkot terus menggalakkan pengetatan anggaran. Langkah efisiensi ini dilakukan melalui rangkaian rapat dinas guna mengukur ketahanan anggaran hingga akhir 2026, terutama karena adanya pemotongan dana transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp284 miliar.
Pemkot Malang menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan kenaikan harga bahan bakar tidak menghambat pelayanan publik.
"Kami berupaya agar kondisi kenaikan harga BBM tetap membuat layanan publik bisa berjalan optimal," tuturnya.