Sektor Tani Jadi Penopang Ekonomi Bojonegoro saat Migas Lesu

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 11 Juni 2026
Sektor Tani Jadi Penopang Ekonomi Bojonegoro saat Migas Lesu
Sektor pertanian menjadi penopang utama ekonomi Bojonegoro pada Triwulan. (Sumber Foto: NET)

BOJONEGORO - Ketergantungan terhadap sektor minyak dan gas bumi (migas) kini berangsur berkurang. Di tengah tren penurunan produksi migas secara nasional, wilayah ini berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi tetap di jalur positif pada Triwulan I Tahun 2026. 

Berdasarkan data terbaru, kinerja ekonomi daerah tumbuh tipis sebesar 0,02 persen secara tahunan (year-on-year). Capaian ini sangat krusial karena diraih saat sektor migas, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian, menghadapi tekanan berat.

Sektor pertambangan dan penggalian yang didominasi komoditas migas tercatat mengalami kontraksi sebesar 8,78 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Padahal, sektor migas masih memegang andil terbesar dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah dengan porsi mencapai 42,03 persen. 

Namun, langkah taktis pemerintah daerah dalam memperkuat sektor non-migas mulai menunjukkan hasil nyata. Sektor pertanian kini muncul sebagai penggerak utama yang mengamankan laju perekonomian.

Panen raya padi di awal tahun menjadi stimulus besar bagi sektor pertanian. Secara triwulanan (quarter-to-quarter), sektor ini melesat 65,94 persen, sementara pertumbuhan tahunannya mencapai 11,38 persen. Peningkatan ini membuktikan bahwa program pembangunan pertanian, seperti perbaikan irigasi, akses pupuk, dan modernisasi, telah memberikan dampak signifikan. 

Keberhasilan di sektor pertanian kini menjadi tameng bagi daerah dari ancaman kontraksi ekonomi yang sempat terjadi pada periode 2023–2024.

Selain pertanian, sektor jasa dan pariwisata juga turut menggeliat. Sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman mencatatkan pertumbuhan 11,37 persen secara tahunan, sementara sektor jasa lainnya tumbuh hingga 14,77 persen. Hal ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi ekonomi yang dijalankan pemerintah daerah telah bekerja efektif.

Kini, wilayah ini menempati peringkat ke-9 sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi non-migas terbesar di Jawa Timur dengan kontribusi 3,20 persen terhadap PDRB provinsi. Hasil Triwulan I-2026 ini menjadi indikator bahwa fondasi ekonomi daerah kian tangguh dan tidak lagi bergantung penuh pada sektor migas. Ke depan, 

pemerintah daerah berkomitmen mengakselerasi hilirisasi hasil tani dan mendukung UMKM demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan bagi masyarakat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua