Fitoplankton Serap Karbon, Paus Bantu Rawat Ekosistem Laut Dunia

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 08 Juni 2026
Fitoplankton Serap Karbon, Paus Bantu Rawat Ekosistem Laut Dunia
Seekor paus biru kerdil (Balaenoptera musculus brevicauda) terpantau oleh drone para peneliti dalam Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi 2025 di perairan Wetar Utara. (Sumber Foto: kompas.com)

JAKARTA - Fitoplankton, organisme mikroskopis di lautan, memegang peranan krusial dalam upaya mitigasi krisis iklim melalui kemampuannya dalam menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer. Menariknya, eksistensi fitoplankton justru mendapatkan dukungan nutrisi dari kotoran paus.

Pakar kelautan dari Universitas Stanford, Matthew Savoca, menjelaskan bahwa fitoplankton memiliki fungsi serupa dengan vegetasi daratan yang mengikat karbon dioksida lewat proses fotosintesis.

“Fitoplankton hampir seperti rumput, hanya saja berada di lautan. Saat mereka tumbuh, mereka menyerap karbon dioksida dan memasukkannya ke dalam sel-sel mereka,” ujar Savoca, dikutip dari Anadolu, Sabtu (6/6/2026).

Karbon yang terjebak dalam tubuh fitoplankton berpotensi tersimpan di laut dalam saat organisme tersebut mati dan tenggelam ke dasar samudera. Mekanisme ini memungkinkan karbon tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun sebelum kembali ke atmosfer.

Selain krusial bagi iklim, fitoplankton adalah fondasi rantai makanan laut. Organisme ini dikonsumsi oleh zooplankton seperti krill, yang kemudian menjadi sumber energi bagi ikan serta mamalia laut, termasuk paus. Dalam siklus tersebut, paus memiliki kontribusi yang tidak kalah penting. 

Mamalia raksasa ini menyuburkan fitoplankton melalui kotorannya yang kaya akan zat besi dan nitrogen.

Savoca mengibaratkan paus sebagai "tukang kebun" yang memastikan produktivitas ekosistem laut tetap terjaga.

“Melalui proses itu, kami memperkirakan paus dapat memberikan dampak terhadap iklim, meski jalurnya bersifat tidak langsung,” kata dia.

Fenomena ini dikenal dengan istilah "pompa paus" (whale pump). Saat mencari makan, paus seperti paus sperma dan paus biru menyelam ke laut dalam untuk memburu krill atau cumi-cumi yang kaya nutrisi. 

Ketika naik ke permukaan, paus membuang kotoran yang membawa nutrisi dari laut dalam ke lapisan atas, yang kemudian diserap oleh fitoplankton untuk tumbuh. Semakin subur fitoplankton, semakin banyak karbon dioksida yang terserap.

Menurut International Fund for Animal Welfare (IFAW), fitoplankton juga berperan vital dalam memproduksi oksigen, di mana organisme ini menyumbang sekitar separuh dari total oksigen yang dihirup manusia. Di tengah ancaman krisis iklim, kenaikan suhu dan tingkat keasaman laut menjadi tantangan serius bagi ekosistem ini.

Ahli biologi paus sekaligus pendiri Dominica Sperm Whale Project, Shane Gero, mengungkapkan bahwa paus sperma di perairan Dominika diduga berkontribusi besar dalam mendukung pertumbuhan plankton karena sering membuang kotoran di dekat permukaan laut. 

Aktivitas ini secara tidak langsung menunjang penyerapan karbon dioksida melalui ledakan populasi plankton.

“Dalam beberapa hal, paus sperma memerangi krisis iklim atas nama kami,” ujar Gero.

Walaupun peneliti masih terus mendalami besaran kontribusi paus terhadap siklus karbon global, hubungan simbiosis antara paus dan plankton menegaskan bahwa kesehatan ekosistem laut merupakan faktor utama dalam pengurangan emisi gas rumah kaca serta stabilitas iklim dunia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua