Dorong Energi Bersih, IHI dan SUN Energy Operasikan PLTS di Jakarta

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 08 Juni 2026
Dorong Energi Bersih, IHI dan SUN Energy Operasikan PLTS di Jakarta
IHI menggandeng penyedia solusi energi terbarukan SUN Energy untuk mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) On Grid. (Sumber Foto: idntimes.com)

JAKARTA - PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI) mulai menerapkan penggunaan tenaga surya guna menunjang operasional pabriknya di Jakarta Timur. Langkah ini merupakan bagian dari strategi korporasi dalam meningkatkan efisiensi sekaligus mendukung target keberlanjutan jangka panjang.

Perusahaan yang bernaung di bawah Kenvue, Inc. ini telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) On Grid berkapasitas 777,98 kilowatt peak (kWp) sejak Februari 2026. Inisiatif ini dikerjakan bersama PT Surya Utama Nuansa (SUN Energy) sebagai penyedia solusi energi terbarukan.

PLTS yang terpasang di fasilitas IHI diproyeksikan mampu memproduksi energi sebesar 1.012.503 kilowatt hour (kWh) setiap tahun. Pemanfaatan energi surya ini diprediksi mampu menekan emisi karbon hingga 787,73 ton CO2 per tahun atau setara dengan penanaman lebih dari 13.000 pohon.

Presiden Direktur PT Integrated Healthcare Indonesia, Teerasak Lueuwirat, menyampaikan inisiatif tersebut diambil di tengah tantangan industri manufaktur kesehatan yang harus menjaga kualitas produk sekaligus mengelola kebutuhan energi yang besar demi mendukung proses produksi.

Menurutnya, penggunaan energi bersih kini bukan lagi sekadar agenda lingkungan, melainkan telah menjadi strategi bisnis untuk menciptakan operasional yang lebih efisien, tangguh, dan siap menghadapi tuntutan industri di masa depan.

"Transisi energi di sektor healthcare membutuhkan solusi yang mampu menjaga keandalan operasional sekaligus mendukung target keberlanjutan perusahaan," ujar Teerasak dalam keterangan resmi, Sabtu (6/6/2026).

Berbeda dengan sektor lainnya, industri kesehatan memiliki keterbatasan dalam menekan penggunaan energi karena harus mempertahankan standar operasional yang ketat. Fasilitas seperti clean room, laboratorium, sistem HVAC, cold-chain logistics, pengolahan air, hingga lini produksi dan pengemasan memerlukan pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan demi menjaga kualitas produk.

Saat ini, IHI memproduksi dan memegang izin edar berbagai merek produk kesehatan, antara lain Mylanta, Tylenol, Benadryl/Bactidol, Imodium, Daktarin, dan Motilium. Produk tersebut tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke sejumlah negara seperti Korea Selatan, Filipina, Thailand, dan Australia.

Di samping mendukung pengurangan emisi karbon, penggunaan energi surya juga dinilai mampu membantu perusahaan mengendalikan biaya energi dalam jangka panjang serta menekan ketergantungan terhadap fluktuasi harga energi konvensional.

Teerasak menambahkan, perusahaan juga telah menerapkan sistem digitalisasi berbasis pemantauan real-time sejak awal tahun ini guna meningkatkan presisi, visibilitas, dan kecepatan pengambilan keputusan operasional. 

Energi dari PLTS tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional, mulai dari sistem pendingin, pengolahan air, pencahayaan, hingga fasilitas produksi dan pergudangan.

Sementara itu, CEO SUN Energy, Jefferson Kuesar, mengatakan, sektor kesehatan merupakan salah satu industri dengan kebutuhan energi paling kritis karena operasionalnya harus memenuhi standar kualitas dan keandalan yang tinggi.

"Karena itu, transisi energi di sektor ini tidak hanya berfokus pada upaya dekarbonisasi, tetapi juga pada penguatan ketahanan energi dan efisiensi operasional jangka panjang. Kami melihat semakin banyak industri memandang energi terbarukan bukan hanya sebagai inisiatif lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi bisnis dan peningkatan daya saing global," ujar Jefferson.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua