Permukaan Laut Naik, Daya Serap Karbon Mangrove Terancam

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 08 Juni 2026
Permukaan Laut Naik, Daya Serap Karbon Mangrove Terancam
Ancaman nyata kenaikan air laut global melahap ekosistem mangrove di garis pantai. (Sumber Foto: rri.id)

JAKARTA - Hutan mangrove selama ini dianggap sebagai garda terdepan dalam menghadapi krisis iklim. Selain berperan mencegah abrasi dan gelombang badai di garis pantai, ekosistem pesisir ini juga dikenal sangat efektif dalam menyerap serta menimbun karbon dalam jumlah besar.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) per 4 Juni 2026, Indonesia tercatat sebagai pemilik ekosistem mangrove terluas di dunia dengan total luas mencapai 3.455.628 hektare. 

Data tersebut mengacu pada SK Nomor 3438 Tahun 2025 mengenai Peta Mangrove Nasional, yang mencakup sekitar 20–25 persen dari total luas mangrove global.

Namun, pertahanan alami ini kini menghadapi ancaman nyata. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kenaikan permukaan air laut dapat mengganggu kemampuan mangrove dalam menyerap dan menyimpan karbon. Dalam kondisi tertentu, mangrove bahkan berpotensi menjadi sumber emisi karbon di masa depan.

Studi dalam jurnal Earth's Future menemukan bahwa kaitan antara kenaikan permukaan laut dengan kapasitas penyimpanan karbon mangrove ternyata jauh lebih kompleks. 

Salah satu periset dalam studi tersebut, Dr. Arya Iwantoro, menjelaskan bahwa banyak penelitian sebelumnya hanya berfokus pada observasi lapangan di lokasi spesifik. Akibatnya, dinamika perubahan pada seluruh ekosistem mangrove dalam jangka panjang belum terpantau secara menyeluruh.

“Penelitian tentang penyimpanan karbon di hutan mangrove biasanya didasarkan pada pengamatan lapangan, dan studi tersebut menemukan bahwa penyimpanan karbon dapat meningkat seiring naiknya permukaan laut. Namun, hal ini mungkin tidak mengungkapkan gambaran yang lebih luas tentang apa yang terjadi di seluruh hutan secara keseluruhan,” ujar Dr. Arya.

Untuk memahaminya lebih dalam, para ilmuwan mengembangkan model yang mengintegrasikan pergerakan air dan sedimen, pola pertumbuhan serta kematian mangrove, hingga mekanisme penyimpanan karbon dalam tanah. 

Model ini digunakan untuk memproyeksikan respons ekosistem mangrove terhadap kenaikan permukaan laut dalam jangka panjang.

Hasil studi menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut pada tahap awal memang bisa meningkatkan penyerapan karbon di beberapa area. Namun, jika kenaikan terjadi secara terus-menerus, kapasitas mangrove dalam menyimpan karbon secara akumulatif justru akan menurun.

Salah satu peneliti dari Universitas Exeter, Luisa Fernanda Gómez Vargas, menjelaskan bahwa kenaikan permukaan laut yang ekstrem dapat memicu drowning atau kondisi tenggelam secara bertahap pada mangrove. 

Saat hal itu terjadi, vegetasi akan mati dan karbon yang selama ini tersimpan dalam tanah berpotensi terlepas kembali ke atmosfer.

“Tumbuhan mangrove sangat terspesialisasi dan membutuhkan durasi genangan air tertentu setiap kali air pasang,” kata Luisa.

Temuan ini menjadi peringatan keras bagi Indonesia yang memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia. Tanpa upaya perlindungan serta pemulihan yang tepat, Indonesia berisiko kehilangan salah satu penyerap karbon alami yang paling efisien.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua