PHE Gandeng PGN dan Pupuk Indonesia Kembangkan CCS untuk Amonia Hijau

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 29 Mei 2026
PHE Gandeng PGN dan  Pupuk Indonesia Kembangkan CCS untuk Amonia Hijau
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama dengan PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan PT Pupuk Indonesia (Persero). (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung agenda transisi energi nasional. Bersama PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan PT Pupuk Indonesia (Persero), subholding upstream Pertamina tersebut telah menandatangani Joint Study Agreement (JSA) untuk mengkaji pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna mendukung produksi amonia rendah karbon di Indonesia.

Penandatanganan kesepakatan ini dilakukan di sela perhelatan Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex). Kolaborasi strategis tersebut dirancang untuk mengintegrasikan upaya pengurangan emisi di sektor industri pupuk dengan kapabilitas penyimpanan karbon yang dimiliki sektor hulu migas.

Melalui kerja sama ini, emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari fasilitas produksi amonia milik Pupuk Indonesia dan afiliasinya akan ditangkap. Selanjutnya, gas rumah kaca tersebut akan diangkut dan diinjeksikan secara aman ke dalam formasi geologi di wilayah kerja Pertamina yang memiliki potensi sebagai lokasi penyimpanan karbon permanen (carbon sink).

Studi bersama ini dijadwalkan mengeksplorasi seluruh rantai nilai CCS secara komprehensif, mencakup aspek teknis penangkapan emisi di pabrik, moda transportasi karbon yang efisien, hingga penginjeksian karbon ke dalam reservoir bawah permukaan.

Selain itu, para pihak juga akan mengkaji potensi pengembangan fasilitas produksi amonia rendah karbon pada aset-aset eksisting milik Pupuk Indonesia dan afiliasinya. Berdasarkan rencana awal, kelebihan volume CO2 dari fasilitas industri tersebut akan dipelajari untuk disalurkan ke lokasi penyimpanan potensial di Jawa Barat dan Jawa Timur, yang dinilai strategis karena dekat dengan pusat industri serta memiliki struktur geologi yang mendukung.

Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, menilai langkah ini sebagai tonggak penting dalam membangun ekosistem CCS yang terintegrasi di Indonesia.

"Kerja sama lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadirkan solusi dekarbonisasi yang nyata untuk industri strategis nasional. Sinergi ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan CCS yang lebih luas sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia," ujar Dannif dalam keterangan resminya, Jumat (22/5).

Penandatanganan kerja sama ini melibatkan para pimpinan entitas terkait, yakni Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti; Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro; PTH Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Hery Murahmanta; serta Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia, Jamsaton Nababan.

Prosesi tersebut turut disaksikan oleh VP Business Support SKK Migas, Firera; Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza; dan Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi.

Sementara itu, SVP Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti, mengatakan pengembangan CCS untuk amonia rendah karbon menjadi bagian dari strategi memperluas implementasi teknologi rendah karbon di sektor industri nasional.

"Studi bersama ini merupakan wujud sinergi antarentitas dalam Pertamina Group dan mitra strategis nasional untuk mengembangkan rantai nilai karbon yang terintegrasi. Melalui pemanfaatan teknologi CCS, kami berharap dapat mendukung pengembangan produk rendah karbon seperti amonia, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional dalam menghadapi transisi energi global," kata Hana.

Melalui kemitraan ini, PHE dan para mitra optimistis adopsi serta komersialisasi teknologi CCS di Indonesia dapat dipercepat untuk memperkuat portofolio bisnis rendah karbon domestik dan mendorong posisi Indonesia sebagai penyedia solusi energi berkelanjutan di Asia Tenggara.

Sebagai komitmen jangka panjang, PHE menegaskan seluruh operasional bisnis hulu migas dijalankan berdasarkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), termasuk penerapan kebijakan Zero Tolerance on Bribery melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah tersertifikasi ISO 37001:2016.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua