HSBC China Siapkan Kredit US$4 Miliar, Indonesia Jadi Target Utama

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 29 Mei 2026
HSBC China Siapkan Kredit US$4 Miliar, Indonesia Jadi Target Utama
HSBC China menyiapkan kredit US$4 miliar untuk mendukung ekspansi energi bersih di Indonesia. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - HSBC Tiongkok menyalurkan fasilitas kredit senilai US$4 miliar untuk mendukung ekspansi internasional perusahaan asal Tiongkok di sektor energi bersih dan rendah karbon. 

Indonesia menjadi salah satu target utama dari fasilitas pembiayaan tersebut. Inisiatif ini mencerminkan fokus HSBC dalam mendukung transisi energi, mendorong inovasi, serta membuka peluang pertumbuhan baru bagi para nasabahnya.

Fasilitas pembiayaan bertajuk Sustainability and Transition Credit Facility tersebut menyediakan akses pendanaan bagi perusahaan Tiongkok yang memenuhi syarat di berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, transportasi listrik, pusat data, hingga kecerdasan buatan (AI).

Saat ini, Tiongkok menyumbang sekitar 47% ekspor teknologi bersih (cleantech) global, termasuk sekitar dua pertiga ekspor panel surya dan baterai dunia. 

Di sisi lain, penjualan kendaraan listrik global diperkirakan mencapai 26 juta unit pada 2026. Kebutuhan listrik pusat data dunia juga diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat, dari sekitar 485 TWh pada 2025 menjadi 945 TWh pada 2030.

Ekspansi pasar ini turut ditopang oleh ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 Upgrade Protocol yang ditandatangani di Kuala Lumpur pada Oktober 2025. Untuk pertama kalinya, perjanjian tersebut memperluas kerja sama perdagangan ASEAN-Tiongkok ke sektor ekonomi hijau, ekonomi digital, serta konektivitas rantai pasok.

Indonesia dinilai berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya suplai energi bersih global. Pada 2024, sekitar 91% proyek tenaga angin dan surya yang baru beroperasi tercatat memiliki biaya lebih murah dibandingkan sumber bahan bakar fosil termurah di dunia.

Dalam ASEAN Summit ke-48 yang baru berlangsung di Filipina, para pemimpin negara ASEAN juga menegaskan komitmen untuk mempercepat pengembangan ASEAN Power Grid guna menciptakan sistem energi kawasan yang lebih terintegrasi, aman, dan berkelanjutan.

Indonesia sendiri dipandang sebagai salah satu pasar investasi energi bersih paling prospektif di Asia Tenggara. Kebutuhan pendanaan untuk mencapai target iklim Indonesia pada 2030 diperkirakan mencapai USD 97 miliar, sebagaimana tercantum dalam Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) dari Just Energy Transition Partnership (JETP).

Sementara itu, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025 menargetkan pengembangan kapasitas energi terbarukan baru sebesar 42.569 MW hingga 2034, lebih dari dua kali lipat dibandingkan target dalam rencana sebelumnya. Pemerintah juga mulai memasukkan target pengembangan penyimpanan energi untuk pertama kalinya dalam dokumen tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Tiongkok juga memperdalam kerja sama transisi energi, tidak hanya pada sektor perdagangan dan infrastruktur, tetapi juga mencakup pengembangan energi terbarukan, rantai pasok baterai, produksi kendaraan listrik, hingga sistem energi digital. Keselarasan arah kebijakan ini dinilai mendukung implementasi fasilitas kredit HSBC untuk menyalurkan pembiayaan ekonomi hijau dari Tiongkok ke pasar seperti Indonesia.

Seiring meningkatnya ekspansi global perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan dunia, fasilitas pembiayaan HSBC ini diharapkan dapat mempercepat penyaluran teknologi dan solusi energi bersih ke berbagai pasar. HSBC juga akan memperluas limit kredit bagi perusahaan yang memenuhi syarat, menyederhanakan proses persetujuan kredit, serta mengembangkan solusi pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bisnis.

Stuart Rogers, Presiden Direktur HSBC Indonesia, mengatakan transisi energi di Indonesia merupakan salah satu peluang investasi energi bersih terbesar di kawasan, dengan kebutuhan pendanaan yang sangat besar untuk mencapai target 2030. HSBC, menurutnya, berada pada posisi strategis untuk menghubungkan ambisi Indonesia dengan perusahaan-perusahaan energi bersih kelas dunia, termasuk dari Tiongkok, yang memiliki teknologi, pengalaman, dan kapasitas untuk mendukung realisasi target tersebut.

“Fasilitas kredit ini memperkuat kemampuan kami untuk melakukan hal tersebut,” ujar Stuart.

Sementara itu, Natalie Blyth, Global Head of Sustainable Finance and Transition HSBC, mengatakan Tiongkok merupakan rumah bagi sejumlah perusahaan rendah karbon paling dinamis di dunia. 

Menurut dia, perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya menetapkan standar baru dalam manufaktur berteknologi tinggi, tetapi juga memainkan peran penting dalam transformasi ekosistem transisi energi global.

“Fasilitas kredit ini dirancang untuk menyediakan dukungan tersebut dan tidak ada bank selain HSBC yang mampu membantu nasabah untuk menemukan, mengakses, dan menavigasi peluang pertumbuhan di seluruh ekosistem global,” ujar Natalie.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua