Pacu TKDN, Jereh Global Gandeng Industri Lokal Sektor Migas

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 25 Mei 2026
Pacu TKDN, Jereh Global Gandeng Industri Lokal Sektor Migas
TKDN sektor hulu migas menembus 62,95 persen. (Sumber Foto: kabarbursa.com)

JAKARTA – Jereh Global menegaskan komitmennya dalam memperkuat infrastruktur serta teknologi pada sektor minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia. 

Perusahaan penyedia mesin kompresor dan teknologi gas ini juga terus berupaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui kolaborasi dengan pelaku industri lokal.

General Manager Southeast Asia Jereh Global, Wesley Liu, menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong penggunaan konten lokal dalam berbagai proyek energi nasional. Baginya, regulasi TKDN merupakan elemen vital dalam memajukan industri migas di tanah air.

“Untuk produk seperti gas compressor memang membutuhkan local content. Karena itu kami mendukung perusahaan lokal untuk membangun kemampuan fabrikasi di Indonesia,” ujar Wesley dalam siaran wawancaranya, dikutip Minggu (24/5/2026).

Hingga kini, Jereh telah memasok lebih dari 30 unit kompresor gas di Indonesia. Pada proyek yang mewajibkan pemenuhan TKDN, perusahaan bekerja sama dengan pihak lokal untuk memproduksi komponen seperti scrubber dan air cooler

Jereh memberikan dukungan desain serta rekayasa, sementara kegiatan fabrikasi dilakukan bersama mitra lokal agar memenuhi standar sertifikasi TKDN. “Kolaborasi dengan partner lokal menjadi bagian penting agar target TKDN bisa tercapai,” katanya.

Di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu, Wesley menilai investasi hulu migas di Indonesia tetap memiliki momentum kuat. 

Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik geopolitik di Timur Tengah membuat peningkatan produksi migas nasional menjadi mendesak. 

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan energi domestik masih sangat tinggi, sementara produksi saat ini belum mencukupi. “Banyak perusahaan migas, bukan hanya Pertamina, meningkatkan pengeboran sumur gas baru. Ketika jumlah sumur bertambah, kebutuhan gas processing plant juga meningkat,” ujarnya.

Meskipun demikian, industri penunjang migas menghadapi tantangan berupa ketidakpastian ekonomi dunia dan gangguan rantai pasok internasional, termasuk kenaikan biaya bahan baku serta tarif impor. 

Sebagai solusi atas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Jereh menawarkan fleksibilitas pembayaran. “Sekarang kami juga bisa menerima pembayaran langsung menggunakan RMB sehingga tidak harus memakai dolar AS,” ujar Wesley.

Selain itu, Jereh mulai berekspansi ke sektor energi bersih seiring dengan dorongan dekarbonisasi global. Salah satu yang dikembangkan adalah teknologi daur ulang baterai kendaraan listrik (EV battery recycle). Wesley melihat potensi besar bagi Indonesia di industri ini. 

“Dalam lima hingga enam tahun ke depan, kebutuhan pengolahan baterai kendaraan listrik bekas akan semakin besar. Karena itu kami mulai mengembangkan teknologi EV battery recycle,” jelasnya. Jereh saat ini tengah menjajaki diskusi dengan perusahaan besar seperti LG, SK Group, dan Samsung terkait pengembangan fasilitas daur ulang baterai tersebut di Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua