Fungsi Strategis Pembangkit Listrik Tenaga Gas untuk Transisi Energi

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 25 Mei 2026
Fungsi Strategis Pembangkit Listrik Tenaga Gas untuk Transisi Energi
Ilustrasi infrastruktur gas. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA – Pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga gas: Para insinyur secara rutin memeriksa peralatan yang mengoperasikan proyek pembangkit listrik tenaga gas. 

Pada COP26, Vietnam, bersama dengan hampir 150 negara lainnya, berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050 dan bergabung dengan Deklarasi Global tentang Transisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara ke Energi Bersih.

Guna merealisasikan komitmen tersebut, pembangkit listrik tenaga gas alam cair (LNG) menjadi opsi strategis yang mendukung keamanan energi sekaligus menekan emisi. 

LNG sering dijuluki sebagai “bahan bakar fosil hijau.” Saat dicairkan, volume gas alam menyusut hingga 600 kali lipat, sehingga mengoptimalkan biaya transportasi dan penyimpanan. LNG tidak berwarna, tidak berbau, tidak korosif, serta menjadi bahan bakar fosil terbersih saat ini.

Dibandingkan bahan bakar tradisional, LNG menghasilkan emisi CO? 45-50% lebih rendah daripada batu bara dan 30% lebih rendah dibanding minyak bumi. Selain itu, emisi nitrogen, sulfur, merkuri, dan partikulat (PM2.5) tergolong sangat rendah. 

Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas udara, tetapi juga meminimalisir risiko pencemaran lingkungan serta melindungi kesehatan masyarakat. 

Dari sisi keamanan, LNG lebih ringan dari air, sehingga apabila terjadi kebocoran, gas akan segera menguap dengan dampak minimal terhadap lingkungan perairan.

Menurut para ahli energi, pembangkit listrik LNG bukan sekadar solusi untuk “menghijaukan” sistem tenaga listrik, melainkan pilar dalam menjamin ketahanan energi nasional. 

Dr. Nguyen Huu Luong dari Institut Perminyakan Vietnam menyatakan bahwa LNG merupakan solusi ramah lingkungan sekaligus ekonomis. 

Senada dengan hal tersebut, Profesor Madya Dr. Dinh Trong Thinh, dosen senior di Akademi Keuangan, menekankan bahwa pembangkit listrik LNG adalah arah yang tidak terelakkan untuk memastikan pasokan listrik yang stabil dan cepat bagi ekonomi serta mendukung transisi energi di Vietnam. 

Hal ini disebabkan kemampuan pembangkit berbahan bakar gas untuk beroperasi dalam mode dasar, memulai produksi dengan cepat, serta menambah pasokan listrik ke jaringan nasional saat sumber energi terbarukan mengalami penurunan produksi.

Dari perspektif bisnis, stabilitas listrik menjadi kebutuhan mendesak. Bapak Tran Van Tinh, direktur bengkel manufaktur mekanik di Kawasan Industri Nam Thang Long, menyampaikan: “Dengan mesin dan jalur produksi yang sangat otomatis, bahkan beberapa detik pemadaman listrik atau gangguan listrik mendadak dapat merusak seluruh batch barang di bengkel saya, mengakibatkan kerugian ratusan juta dong, belum lagi kerusakan peralatan. 

Kami sangat mendukung kebijakan penggunaan energi bersih, tetapi yang terpenting, pasokan listrik harus berkelanjutan dan stabil. 

Mengetahui bahwa Pemerintah Kota dan Negara berinvestasi besar-besaran di pembangkit listrik tenaga gas untuk memastikan pasokan yang stabil dalam segala keadaan, kami para pelaku usaha merasa sangat tenang dan yakin untuk meminjam modal dan memperluas produksi di masa mendatang.”

Mengingat lonjakan permintaan listrik, proyek pembangkit listrik LNG Quynh Lap sedang diimplementasikan sebagai salah satu proyek energi utama di Provinsi Nghe An. Proyek dengan total investasi lebih dari 59 triliun VND ini dirancang dengan kapasitas sekitar 1.500 MW. 

Setelah beroperasi, pembangkit ini diharapkan mampu memasok sekitar 9 miliar kWh setiap tahun ke jaringan nasional. Dengan mengadopsi teknologi Turbin Gas Siklus Gabungan (CCGT) generasi baru, proyek ini memiliki efisiensi tinggi sekaligus mengurangi emisi polutan, menjadikannya langkah tepat bagi target emisi nol bersih Vietnam pada tahun 2050.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua