Energi Bersih Dinilai Kebal Guncangan Krisis Selat Hormuz
- Selasa, 19 Mei 2026
JAKARTA - Bloomberg, Ketegangan yang terjadi di Iran memicu hadirnya dorongan baru bagi akselerasi peralihan menuju ekonomi rendah karbon lantaran energi terbarukan dinilai aman dari fluktuasi harga di masa depan, merujuk pada sudut pandang bersama para pimpinan korporasi serta bankir senior.
Sekretariat Komisi Transisi Energi, yang beranggotakan para eksekutif dari ArcelorMittal SA, HSBC Holdings Plc, dan Shell Plc, memaparkan dalam laporan terbarunya bahwa krisis di Timur Tengah saat ini memperjelas “kerentanan struktural dalam sistem energi global: ketergantungan yang besar pada pasokan bahan bakar fosil yang terkonsentrasi secara geografis dan jalur transit kritis.” Sebaliknya, “sistem energi bersih secara struktural kebal terhadap jenis guncangan ini,” ungkap kelompok tersebut.
ETC, yang dipimpin bersama oleh mantan regulator keuangan Kota London Adair Turner, masuk dalam jajaran pihak yang menilai bahwa konflik di Iran pada akhirnya justru memperkokoh urgensi pemanfaatan energi terbarukan.
Baca JugaPapua Tengah Fasilitasi 250 Pelajar OAP Masuk Sekolah Kedinasan
Krisis tersebut, yang sempat mengganggu distribusi minyak dan memicu lonjakan harga bahan bakar fosil, telah membuka peluang bagi masuknya arus investasi baru karena pemerintah di berbagai negara tengah berupaya memperkuat ketahanan energi mereka.
“Hampir setiap negara di dunia dapat mencapai kemandirian energi melalui listrik terbarukan dengan cara yang tidak mungkin dicapai melalui bahan bakar fosil,” kata Turner dalam wawancara.
“Pasokan bahan bakar fosil sangat tidak merata di seluruh dunia, sehingga ada beberapa negara yang mendapat keuntungan besar dari bahan bakar fosil, sementara yang lain menjadi importir besar.”
Sistem energi bersih “mengubah struktur fisik dan ekonomi pasokan energi,” menjadikannya lebih kokoh ketimbang alternatif bahan bakar fosil, jelas ETC.
Ketika sistem minyak dan gas “bergantung pada aliran komoditas yang diekstraksi, diperdagangkan, dan diangkut secara terus menerus,” sistem yang dikembangkan berbasis energi hijau justru bertumpu pada “aset modal terpasang sekali pakai” seperti panel surya, turbin angin, dan baterai yang, setelah terpasang, sanggup memproduksi energi selama bertahun-tahun atau bahkan dekade.
Pada sektor energi bersih, sebanyak 90% investasi modal dialokasikan di awal, sehingga batasan efek guncangan harga hanya memengaruhi aset yang memang perlu diganti atau diperluas, papar ETC.
“Energi terbarukan menciptakan sekelompok aset modal, yang setelah dimiliki, tidak rentan terhadap pemutusan jalur pipa oleh pihak lain atau pengalihan LNG ke tempat lain karena mendapat tawaran yang lebih baik,” kata Turner.
“Perbedaan utama” antara guncangan saat ini dan krisis energi terdahulu adalah “ketersediaan alternatif yang siap diterapkan” yang sekarang memiliki biaya kompetitif serta skala yang mumpuni untuk menantang dominasi bahan bakar fosil, menurut ETC.
Merosotnya harga energi angin, surya, dan baterai beberapa tahun belakangan “memungkinkan respons terhadap krisis saat ini bisa lebih kuat” dalam bermigrasi dari minyak dan gas, tambah kelompok tersebut.
Alasan untuk melangsungkan transisi tersebut dinilai teramat kuat bagi ekonomi Asia yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz, ungkap ETC.
Dampak krisis energi saat ini dirasakan “paling parah” di Asia, di mana kelangkaan bahan bakar dan lonjakan harga mengganggu sektor transportasi, aktivitas industri, ketersediaan pangan langsung, hingga penggunaan pupuk, merujuk pada laporan itu.
“Tenaga surya sangat murah, baterai sangat murah, dan kendaraan listrik semakin murah, sehingga ini adalah krisis energi pertama di mana orang-orang berkata, ‘bukan kah ada alternatifnya?’” kata Turner.
Ferdi Tri Nor Cahyo
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026












