PLN EPI Manfaatkan Teknologi IoT untuk Modernisasi Bibit Biomassa

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 11 Mei 2026
PLN EPI Manfaatkan Teknologi IoT untuk Modernisasi Bibit Biomassa
Pemanfaatan listrik dan teknologi digital mulai diterapkan dalam pembibitan Mangrove. (Sumber Foto:NET)

JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berkolaborasi dengan PT PLN (Persero) menempuh langkah modernisasi pada sektor pembibitan tanaman biomassa dengan mengoptimalkan teknologi digital. Upaya ini dilakukan guna mendukung program transisi energi, mengurangi angka emisi, sekaligus memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi di daerah.

Inisiatif tersebut direalisasikan lewat skema program Electrifying Agriculture, yang salah satunya sudah diterapkan di Kelurahan Gombang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai informasi, biomassa adalah sumber energi dari bahan organik terbarukan yang bersumber dari organisme hidup, meliputi tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme.

“Program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan berbasis masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital sehingga lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan,” kata Sekretaris Perusahaan PT PLN Energi Primer Indonesia, Mamit Setiawan, Sabtu (9/5/2026).

Mamit memaparkan bahwa pemakaian sistem penyiraman otomatis yang berbasis Internet of Things (IoT) memungkinkan proses pemeliharaan bibit terjadwal secara akurat serta dapat dikendalikan lewat ponsel. Teknologi ini diklaim sanggup mengoptimalkan penggunaan air, meminimalkan beban kerja manual, serta menjamin kualitas bibit yang diproduksi. PLN EPI sendiri tengah fokus mengembangkan rumah pembibitan untuk tanaman energi jenis indigofera dan kaliandra yang bakal dipakai sebagai bahan campuran batu bara dalam sistem cofiring PLTU.

"Program ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung ketahanan energi nasional," terangnya.

Fasilitas rumah bibit tersebut dikelola oleh Gapoktan Tani Mulya dengan dukungan instalasi listrik, sistem penyiraman digital, hingga pembekalan mengenai tata kelola rumah bibit modern. Panewu Kapanewon Ponjong, Asih Tri Wahyuni, berpendapat bahwa program ini sangat selaras dengan karakteristik lahan di Gunungkidul yang cenderung kering dan kritis sehingga memerlukan sentuhan inovasi pertanian.

“Pendampingannya tidak hanya berhenti pada program, tetapi juga sampai masyarakat mampu mandiri mengelola rumah bibit,” ungkapnya.

Menurut Asih, masyarakat sudah mulai merasakan manfaat nyata dari program ini. Selain untuk keperluan energi, daun tanaman indigofera juga dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai bahan pewarna alami dalam pembuatan kerajinan eco print.

Di sisi lain, Manager PLN UP3 Jogja dan Wonosari, Agung Pratomo, memandang bahwa pengembangan biomassa yang melibatkan masyarakat merupakan model kolaborasi ideal demi menjaga keberlanjutan energi nasional.

“Tanaman energi ini nantinya digunakan sebagai campuran bahan bakar batubara di PLTU melalui cofiring. Jadi masyarakat ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan energi,” pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua