Emisi Karbon Penerbangan Eropa Melambung, Lampaui Level Pra-Pandemi
JAKARTA - Total emisi penerbangan di wilayah Eropa terus menunjukkan tren kenaikan, meskipun industri terkait telah berjanji untuk memangkas jejak karbon dan beralih ke pesawat yang lebih efisien. Berdasarkan hasil penelitian terbaru, emisi dari sektor ini kini telah melewati angka sebelum pandemi, yang didorong oleh ekspansi besar-besaran maskapai bertarif rendah.
Merujuk data dari lembaga kajian Transport & Environment (T&E) pada Jumat (8/5/2026), emisi karbon dari maskapai Ryanair saja tercatat menyentuh 16,6 megaton (Mt) pada tahun 2025. Angka ini hampir setara dengan total emisi tahunan negara Kroasia. Dengan mengangkut lebih dari 200 juta penumpang tahun lalu—naik dari 140 juta pada 2019—jejak karbon Ryanair kini 50 persen lebih tinggi dibandingkan periode sebelum pandemi.
Secara keseluruhan, sektor penerbangan Eropa menghasilkan 195 Mt emisi karbon dari keberangkatan tahun lalu, meningkat 2 persen dari level sebelum Covid-19 melanda dunia.
Meskipun Inggris dan Uni Eropa sudah menerapkan sistem perdagangan emisi (ETS), T&E menilai aturan tersebut belum mampu menjaring sebagian besar polusi udara. Pasalnya, sistem ini hanya berlaku untuk rute di dalam wilayah Eropa. Dampaknya, penerbangan jarak jauh dengan pesawat besar yang mengonsumsi lebih banyak bahan bakar justru terbebas dari aturan ini.
Ketimpangan ini terlihat dari biaya yang harus dibayar maskapai. Ryanair membayar rata-rata 50 Euro per ton karbon, sedangkan Lufthansa hanya sekitar 20 Euro. Sebagai contoh, rute London-New York yang menghasilkan hampir 1,4 juta ton emisi pada 2025 sama sekali tidak dikenai biaya karbon.
T&E mendesak agar sistem biaya karbon diterapkan pada seluruh jadwal keberangkatan guna mempercepat pengurangan polusi dan meningkatkan pendapatan negara. Langkah ini diprediksi mampu melipatgandakan pendapatan Uni Eropa hingga empat kali lipat pada 2030, yang nantinya dapat dialokasikan untuk mendanai bahan bakar ramah lingkungan serta mengatasi fenomena contrails.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa biaya sistem karbon sebenarnya sangat kecil jika dibandingkan dengan fluktuasi harga bahan bakar akibat krisis di Timur Tengah. Kenaikan harga bahan bakar menambah beban sekitar 90 Euro per penumpang untuk rute jarak jauh, sementara aturan bahan bakar ramah lingkungan hanya menambah sekitar 3 Euro.
“Harga tiket naik karena ketergantungan Eropa pada bahan bakar fosil, bukan karena aturan lingkungan yang bertujuan untuk menjauhkan sektor ini dari bahan bakar tersebut,” kata Giacomo Miele, penulis analisis dari T&E.
“Tingkat emisi penerbangan yang mencapai rekor tertinggi adalah tanda nyata bahwa industri ini tidak berniat memperbaiki diri. Sudah waktunya untuk berhenti memberikan subsidi pada ketergantungan bahan bakar fosil dan mulai berinvestasi untuk masa depan sektor penerbangan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Sanggahan Maskapai
Menanggapi hal tersebut, juru bicara Ryanair berargumen bahwa kenaikan emisi terjadi karena posisi mereka sebagai maskapai dengan pertumbuhan tercepat. Pihak maskapai mengklaim pertumbuhan ini menggunakan pesawat baru yang lebih hemat bahan bakar, sehingga polusi per penumpang sebenarnya mengalami penurunan.
Operasional Ryanair juga diklaim menggantikan peran maskapai lama yang kurang efisien dengan tingkat polusi lebih tinggi. Ryanair menyatakan bahwa data emisi ETS tidak sepenuhnya akurat karena tidak menyertakan emisi maskapai lain yang dibebaskan dari pajak lingkungan.
Mereka menilai sistem ETS tidak adil karena hanya menyasar penerbangan domestik Eropa, sementara penerbangan jarak jauh yang paling polutif justru dikecualikan. Ryanair menegaskan bahwa jika seluruh jenis penerbangan dihitung, emisi mereka masih berada di bawah maskapai besar seperti Lufthansa, Air France/KLM, dan IAG. Mereka juga mengeklaim memiliki tingkat emisi terendah di kelasnya, yakni sekitar 64 gram per penumpang untuk setiap kilometer.