China Dan Eropa Bentuk Aliansi Karbon Global, Kontras dengan Trump

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 11 Mei 2026
China Dan Eropa Bentuk Aliansi Karbon Global, Kontras dengan Trump
Ilustrasi Emisi karbon. (Foto:NET).

FLORENCE –  China dan Uni Eropa telah bersepakat membangun aliansi global terkait penetapan harga karbon. Langkah ini menempatkan mereka pada posisi yang berlawanan dengan kebijakan pemerintahan Trump yang saat ini lebih menitikberatkan investasi pada bahan bakar fosil. 

Koalisi mengenai penetapan harga karbon yang bersifat mengikat ini dipimpin oleh Uni Eropa, China, serta Brasil, yang sebelumnya telah merintis gagasan tersebut pada KTT iklim COP30 bulan November lalu, dan resmi diluncurkan di Florence, Italia, pada Kamis.

Para pegiat lingkungan dan pakar ekonomi telah sejak lama menyuarakan penetapan harga karbon sebagai instrumen utama untuk menekan emisi gas rumah kaca serta menanggulangi pemanasan global. 

Inisiatif ini muncul tepat saat Amerika Serikat tengah berupaya menghapus kebijakan iklim dan mendahulukan perluasan bahan bakar fosil. Presiden Donald Trump sendiri telah menarik AS dari Perjanjian Iklim Paris dan berusaha merintangi perkembangan industri tenaga angin lepas pantai.

Pada Oktober tahun lalu, pemerintahannya juga menggagalkan pengesahan tarif emisi pada industri pelayaran dengan dalih hal tersebut merupakan "pajak karbon global" yang membebani warga Amerika. Di sisi lain, koalisi baru ini memiliki target untuk menyelaraskan praktik penetapan harga karbon di tingkat global.

"Kami perlu memastikan bahwa sistem perdagangan emisi ini saling terhubung, sehingga perdagangan kredit karbon menjadi jauh lebih mudah, dan perusahaan juga difasilitasi dalam beroperasi di berbagai yurisdiksi,” kata Kurt Vandenberghe, direktur jenderal iklim di Komisi Eropa.

Koalisi ini turut melibatkan negara-negara lain seperti Inggris, Kanada, Prancis, Turki, Selandia Baru, dan Jerman, sementara wilayah sub-nasional seperti California dan Quebec akan berpartisipasi sebagai pengamat.

“Kami masih percaya bahwa di AS, banyak pemerintah daerah, negara bagian, perusahaan, dan organisasi berkomitmen pada upaya penyesuaian perubahan iklim, dan kami ingin bekerja sama dengan mereka,” kata Li Gao, wakil menteri ekologi dan lingkungan China. “Koalisi ini sangat penting.”

China, sebagai produsen emisi gas rumah kaca terbesar, telah berkomitmen pada tahun lalu untuk memangkas emisi sebesar 7–10% dari titik puncak pada 2035 dan berencana meningkatkan kapasitas tenaga surya serta angin hingga enam kali lipat. Pasar karbon mereka dijadwalkan bertransformasi dari sistem berbasis intensitas ke batas absolut, serta memperlebar cakupan ke sektor petrokimia dan penerbangan.

Sementara itu, Uni Eropa memiliki pasar emisi paling ketat di dunia yang menjangkau lebih dari 10.000 fasilitas industri. Uni Eropa juga sudah memberlakukan pungutan batas karbon untuk impor produk tertentu. Brasil sendiri diproyeksikan akan mengoperasikan pasar karbon nasional secara penuh pada awal dekade mendatang.

Menurut Cristina Froes de Borja Reis, Sekretaris Luar Biasa Brasil untuk Pasar Karbon, koalisi ini akan membantu membangun kepercayaan publik terhadap pasar karbon sekaligus mendorong inovasi serta investasi. 

Selain berupaya membuat pelaporan emisi menjadi lebih transparan, koalisi ini bertujuan membantu negara-negara mengakses pasar kredit karbon di bawah pengawasan PBB berdasarkan Pasal 6 Perjanjian Paris.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua