Krisis Sulfur Timur Tengah Bayangi Hilirisasi Nikel Indonesia
- Jumat, 24 April 2026
JAKARTA – Konflik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz mengancam hilirisasi nikel Indonesia akibat terganggunya pasokan sulfur sebagai bahan baku utama smelter HPAL.
Ketergantungan industri terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri kini mulai menunjukkan sisi kerentanan yang cukup serius. Situasi politik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor eksternal yang memicu kecemasan bagi para pelaku usaha pertambangan di tanah air.
"Pasokan yang sangat terkonsentrasi ini, setelah penutupan Selat Hormuz, mengakibatkan terganggunya bahkan akan terputusnya sumber bahan baku utama untuk refinery HPAL di Indonesia," ujarnya kepada cnbcindonesia.com, Jumat (24/4/2026).
Baca Juga
Arif Perdana Kusumah selaku Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia menjelaskan bahwa mayoritas kebutuhan sulfur domestik memang berasal dari wilayah yang sedang bergejolak tersebut. Persentase impor dari sana tercatat mencapai angka 75 hingga 80 persen dari total kebutuhan nasional.
Arif berpendapat bahwa kehadiran sulfur memiliki peran yang sangat vital karena menjadi bahan dasar dalam pembuatan asam sulfat untuk memproses nikel.
Fasilitas pengolahan yang menggunakan metode High Pressure Acid Leaching sangat mengandalkan ketersediaan zat kimia ini dalam setiap tahap produksinya. Tanpa adanya aliran pasok yang stabil, operasional pabrik pemurnian tersebut dipastikan akan menemui hambatan teknis yang besar.
"Produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) battery grade nickel dengan menggunakan teknologi HPAL yang sangat bergantung pada asam sulfat," katanya kepada cnbcindonesia.com.
Kebutuhan teknis dalam industri ini mencatat bahwa setidaknya diperlukan sekitar 10 sampai 12 ton sulfur untuk menghasilkan hanya 1 ton nikel. Besarnya volume yang dibutuhkan membuat biaya pengadaan sulfur menjadi variabel paling dominan dalam struktur pengeluaran perusahaan.
"Sebagai negara produsen terbesar untuk material nikel-kobalt (MHP) dari proyek-proyek HPAL, Indonesia sangat bergantung pada impor sulfur dari Timur Tengah," katanya kepada cnbcindonesia.com.
Lonjakan harga bahan baku ini sudah mulai terasa di pasar internasional seiring dengan terbatasnya akses logistik melalui jalur laut utama. Pemerintah saat ini mulai melakukan pemetaan mendalam guna mencari solusi alternatif untuk menjaga stabilitas program hilirisasi strategis nasional.
Ferdi Tri Nor Cahyo
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026












