Persiapan TKA Berbasis Komputer SD-SMP Hampir Rampung, Ini Penjelasannya
- Jumat, 03 April 2026
JAKARTA - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis komputer untuk jenjang SD hingga SMP kini semakin dekat.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memastikan seluruh tahapan persiapan hampir rampung, sehingga pelaksanaan ujian dapat berjalan sesuai rencana. Di tengah kesiapan tersebut, berbagai aspek teknis hingga nonteknis terus dimatangkan agar pelaksanaan berjalan lancar dan tidak membebani peserta didik.
Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan TKA kali ini tidak hanya menekankan kesiapan sistem, tetapi juga kenyamanan siswa dalam menghadapi ujian. Pemerintah berupaya menciptakan suasana evaluasi yang lebih ringan, tanpa tekanan berlebihan, sekaligus tetap menjaga integritas proses penilaian.
Baca JugaWFH Jumat ASN Dipantau Ketat dengan Geo-Location, Cegah Libur Panjang
Kesiapan Infrastruktur Hampir Rampung
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyampaikan bahwa persiapan pelaksanaan TKA berbasis komputer telah memasuki tahap akhir. Hal ini mencakup kesiapan sistem, perangkat pendukung, hingga koordinasi dengan berbagai satuan pendidikan.
Terkait infrastruktur, Mu'ti menerangkan sekolah yang belum memiliki sarana komputer telah diatur mekanismenya agar tetap bisa menyelenggarakan tes.
"Sekolah-sekolah yang tidak atau belum punya komputer kita atur sedemikian rupa supaya bisa pinjam di sekolah lain yang tidak menyelenggarakan TKA," kata Mendikdasmen Mu'ti di Jakarta pada Kamis.
Dengan skema ini, pemerintah berusaha memastikan tidak ada sekolah yang tertinggal hanya karena keterbatasan fasilitas. Kolaborasi antar sekolah menjadi solusi agar seluruh peserta didik tetap mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengikuti TKA.
Langkah ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam menciptakan pemerataan akses pendidikan, khususnya dalam pelaksanaan evaluasi berbasis teknologi.
TKA Bukan Penentu Kelulusan Siswa
Di tengah persiapan yang hampir selesai, pemerintah juga memberikan penegasan penting terkait posisi TKA dalam sistem pendidikan. Tes ini tidak dijadikan sebagai penentu kelulusan siswa, sehingga diharapkan tidak menimbulkan kecemasan berlebihan.
Mu'ti mengimbau para murid dan orang tua untuk tidak perlu mencemaskan TKA karena tes tersebut bukan penentu kelulusan.
Fokus penilaian TKA, kata dia, hanya pada dua mata pelajaran saja, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika, sementara ketentuan lainnya tetap menjadi kewenangan satuan pendidikan masing-masing.
Dengan demikian, TKA lebih berfungsi sebagai alat ukur kemampuan akademik dasar, bukan sebagai satu-satunya indikator keberhasilan siswa. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi tekanan psikologis yang kerap muncul dalam sistem evaluasi pendidikan.
Pengawasan Ketat dengan Prinsip Kejujuran
Selain kesiapan teknis, aspek pengawasan juga menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan TKA. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengusung tagline "Jujur dan Gembira" sebagai landasan dalam pelaksanaan ujian.
Tagline ini mencerminkan dua hal penting, yakni integritas dan kenyamanan peserta didik. Namun demikian, pemerintah tetap bersikap tegas terhadap segala bentuk kecurangan yang mungkin terjadi.
"Kita tegas ya prinsipnya, kalau ada murid yang curang atau sekolah yang curang, maka langsung kita nol kan nilainya. Karena yang utama tentu saja kejujuran," tegasnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun suasana ujian dibuat lebih santai, prinsip kejujuran tetap menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Pengawasan dilakukan untuk memastikan seluruh proses berjalan secara adil dan transparan.
Dengan sistem berbasis komputer, peluang untuk meningkatkan kualitas pengawasan juga semakin besar, sehingga potensi kecurangan dapat diminimalkan.
Ciptakan Suasana Ujian yang Gembira dan Minim Tekanan
Tidak hanya fokus pada aspek teknis dan pengawasan, pemerintah juga menaruh perhatian pada kondisi psikologis siswa. Menteri Mu'ti berharap para peserta didik dapat mengerjakan TKA dengan perasaan gembira.
Pendekatan ini bertujuan untuk menghindari kendala psikologis seperti rasa cemas berlebihan atau mental block yang dapat memengaruhi hasil ujian. Suasana yang nyaman diharapkan mampu membantu siswa menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Dengan konsep "Jujur dan Gembira", pemerintah ingin menghadirkan paradigma baru dalam pelaksanaan ujian. Ujian tidak lagi dipandang sebagai momok yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar yang menyenangkan.
Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian dari transformasi sistem pendidikan yang lebih humanis, di mana keseimbangan antara pencapaian akademik dan kesehatan mental siswa menjadi perhatian utama.
Secara keseluruhan, kesiapan TKA berbasis komputer yang telah mencapai tahap akhir menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas evaluasi pendidikan. Dengan dukungan infrastruktur, sistem pengawasan yang ketat, serta pendekatan yang lebih ramah siswa, pelaksanaan TKA diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Mega Insurance Lirik Peluang Kampung Nelayan 5.000 Program Nasional 2029
- Jumat, 03 April 2026
Penyaluran KUR BRI Tembus Rp31,42 Triliun per Februari 2026, UMKM Makin Terdorong
- Jumat, 03 April 2026
Berita Lainnya
Pemerintah Siapkan SDM Khusus Dukung Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan
- Jumat, 03 April 2026
LAN dan Kemensos Perkuat Sekolah Rakyat Dukung Program Prioritas Presiden
- Jumat, 03 April 2026
Prabowo Beri Hadiah Unik untuk Presiden Korsel, Baju Khusus Bobby Jadi Sorotan
- Jumat, 03 April 2026












