Danantara dan INA Tanam Investasi Rp3,37 Triliun untuk Proyek CA-EDC TPIA di Cilegon
- Rabu, 04 Maret 2026
JAKARTA - Penguatan industri petrokimia nasional kembali mendapat dorongan signifikan.
Kali ini, dukungan datang dari Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA) yang menanamkan modal besar ke proyek strategis milik PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA). Investasi ini menjadi bagian dari langkah mempercepat hilirisasi dan memperkuat ketahanan industri bahan baku dalam negeri.
Komitmen pendanaan tersebut difokuskan pada pembangunan pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Proyek ini dipandang sebagai salah satu fondasi penting untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia strategis sekaligus meningkatkan nilai tambah industri nasional.
Baca JugaGrup Pyridam Farma (PYFA) Perluas Kapasitas Produksi Injeksi Steril untuk Pasar Global
Komitmen Investasi US$200 Juta untuk Proyek Strategis
Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA) menanamkan modal senilai US$200 juta atau setara dengan Rp3,37 triliun (asumsi kurs Rp16.868 per dolar AS) ke dalam proyek petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) milik konglomerat Prajogo Pangestu.
Investasi itu tertuang dalam penandatanganan Conditional Share Subscription Agreement (CSSA) antara Danantara, INA, dan Chandra Asri Group. Perjanjian itu menandai fase komitmen modal dalam mendukung pembangunan pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten yang dikembangkan dan dioperasikan oleh Chandra Asri group.
Dalam struktur investasi yang disepakati, Danantara Indonesia dan INA akan bersama-sama menanamkan modal dengan total investasi sebesar US$200 juta. Adapun, pembangunan pabrik CA-EDC memiliki nilai proyek sebesar US$800 juta atau sekitar Rp13,39 triliun.
Pendanaan itu akan digunakan untuk membangun fasilitas industri strategis CA-EDC yang dikelola oleh PT Chandra Asri Alkali (CAA), anak usaha TPIA. Pabrik petrokimia CA-EDC yang telah ditetapkan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) itu direncanakan mulai beroperasi pada 2027.
Dorong Hilirisasi dan Kurangi Ketergantungan Impor
Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara Indonesia, menyampaikan perjanjian hari ini menegaskan komitmen Danantara Indonesia untuk memperkuat industri-industri strategis nasional yang memberikan nilai tambah tinggi, menciptakan lapangan kerja, serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Kolaborasi ini tidak hanya sebagai respon terhadap tantangan ketergantungan impor, tetapi juga sebagai langkah nyata untuk mempercepat hilirisasi, kunci penggerak ekonomi Indonesia," ujar Pandu.
Pengganti Sementara Ketua Dewan Direktur INA Eddy Porwanto menyatakan investasi ini mencerminkan mandat investasi jangka panjang INA untuk menggerakkan modal pada sektor-sektor yang menjadi prioritas nasional. Menurutnya, kolaborasi INA dan Danantara Indonesia sebagai mitra investor jangka panjang bertujuan untuk membangun fondasi permodalan yang kuat untuk mendukung pengembangan kapasitas industri bahan baku strategis secara berkelanjutan.
"Upaya ini diharapkan dapat mendorong hilirisasi, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, serta memperkuat daya saing dan ketahanan industri nasional," kata Eddy.
Dampak Ekonomi dan Lapangan Kerja
Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group Erwin Ciputra menyambut baik partisipasi Danatara Indonesia serta INA sebagai mitra investasi strategis dalam proyek CA-EDC ini. "Dukungan ini mencerminkan kepercayaan terhadap kapabilitas Chandra Asri Group dalam mengembangkan fasilitas ini," ucapnya.
TPIA berharap proyek CA-EDC ini dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan impor bahan kimia strategis, memperkuat ketahanan rantai pasok nasional serta mendukung hilirisasi.
Selain itu, Erwin mengatakan pembangunan dan operasional fasilitas ini juga akan membuka peluang kerja baru sebanyak 3.000 pekerja pada masa konstruksi dan 250 pekerja pada saat operasional, serta memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan industri di Cilegon dan sekitarnya.
Kapasitas Produksi dan Manfaat Industri
Pada fase pertama, pembangunan pabrik CA-EDC akan memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 400.000 ton Caustic Soda kering per tahun dan 500.000 ton Ethylene Dichloride. Fasilitas ini dikembangkan dengan standar teknologi dan keselamatan industri yang tinggi untuk memastikan efisiensi operasional, keandalan pasokan serta kepatuhan terhadap prinsip keberlanjutan.
Sebagai informasi, Caustic Soda digunakan sebagai bahan baku yang digunakan dalam proses produksi sabun dan deterjen, pemurnian alumina, hingga proses pembuatan kertas. Sementara itu, EDC merupakan bahan baku utama yang mendorong industri konstruksi dan pengemasan.
Kehadiran kapasitas produksi Caustic Soda di dalam negeri diharapkan dapat secara signifikan memperkuat substitusi impor dan ketahanan pasokan domestik. Sementara produksi EDC tidak hanya mendukung kebutuhan industri dalam negeri, tetapi juga memiliki potensi untuk meningkatkan ekspor, memberikan kontribusi pada devisa, seiring dengan penguatan daya saing industri kimia nasional.
Melalui investasi strategis ini, Danantara dan INA turut mempertegas peran lembaga investasi negara dalam memperkuat struktur industri nasional. Proyek CA-EDC menjadi salah satu langkah konkret dalam membangun fondasi hilirisasi yang lebih kokoh sekaligus memperluas dampak ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.


.jpg)

.jpg)




.jpg)