Jelang Implementasi B50, Jumlah Badan Usaha Biodiesel Bertambah dan Titik Serah Makin Luas
- Jumat, 27 Februari 2026
JAKARTA — Menjelang rencana peningkatan campuran biodiesel ke B50, struktur industri dalam negeri menunjukkan penguatan. Pada 2026, jumlah Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) resmi bertambah, menjadi sinyal bahwa ekosistem distribusi biodiesel nasional semakin matang di tengah keberlanjutan mandatori B40.
Penambahan pelaku usaha ini dinilai strategis karena memperluas kapasitas distribusi sekaligus memperkuat tata kelola pasokan fatty acid methyl ester (FAME) di pasar domestik. Di tengah volume mandatori yang tetap besar, diversifikasi pelaku usaha menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas suplai.
Sekretaris Jenderal APROBI Ernest Gunawan mengatakan tambahan satu BU BBN baru menjadi bagian dari penyesuaian alokasi tahun ini yang relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Selain penambahan pelaku usaha, jumlah titik serah juga meningkat sehingga distribusi makin tersebar.
Baca JugaKabar Gembira, Cicilan Rumah Subsidi Bakal Diperpanjang hingga 30 Tahun agar Angsuran Lebih Ringan
“BU BBN-nya sudah ada pertambahan satu BU BBN, PT Selago dan juga di mana BU BBN ini kita menyuplai ke 32, di mana yang PSO non-PSO itu ada dua, Pertamina dan PT AKR pastinya. Dan 32 lainnya non-PSO dengan titik serahnya juga bertambah menjadi 85 titik serah,” ujar Ernest.
Dengan tambahan ini, rantai distribusi biodiesel dinilai semakin solid dan tidak lagi bertumpu pada sedikit entitas besar saja.
Alokasi B40 2026 Naik Tipis, Distribusi Tetap Seimbang
Pada 2026, alokasi mandatori B40 tercatat naik tipis sekitar 30.000 kiloliter (KL) menjadi 15,646 juta KL. Kenaikan ini mencerminkan konsistensi pemerintah dalam menjaga program biodiesel tetap berjalan stabil tanpa lonjakan drastis.
Dari total tersebut, sekitar 7,4 juta KL dialokasikan untuk segmen PSO dan 8,1 juta KL untuk non-PSO. Komposisi ini menunjukkan keseimbangan distribusi antara pasar bersubsidi dan komersial tetap dijaga.
Struktur alokasi yang relatif berimbang dinilai membantu memastikan pasokan biodiesel terserap optimal di berbagai segmen pasar. Dengan dukungan BU BBN yang bertambah, distribusi diharapkan semakin efisien dan menjangkau lebih banyak titik serah.
Penambahan BU BBN menjadi penting terutama dalam menjaga keandalan pasokan ketika volume mandatori tetap besar dan distribusi dilakukan melalui puluhan titik di berbagai wilayah Indonesia.
Kapasitas Terpasang Capai 17,14 Juta KL
Berdasarkan data terakhir, terdapat sekitar 32 perusahaan biodiesel di Indonesia yang tersebar di Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Total kapasitas terpasang dari 32 perusahaan biodiesel tersebut mencapai 17,14 juta kiloliter atau setara dengan nilai investasi sebesar US$1,78 miliar.
Angka kapasitas ini menunjukkan ruang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mandatori domestik. Dengan alokasi 15,646 juta KL pada 2026, kapasitas produksi nasional secara agregat masih berada di atas kebutuhan distribusi tahunan.
Ketersediaan kapasitas yang memadai juga menjadi landasan penting dalam menjaga keberlanjutan program biodiesel. Industri menilai fondasi hulu hingga hilir semakin siap menghadapi peningkatan campuran di masa mendatang.
“Di tahun 2025 kita sudah berhasil menjalankan program B40. Yang sebenarnya mungkin banyak dari instansi ataupun pihak luar yang menyatakan kalau ada pemisahan PSO dan non-PSO sepertinya tidak akan berhasil,” terangnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kekhawatiran mengenai pemisahan distribusi PSO dan non-PSO tidak terbukti, karena realisasi tetap mampu melampaui target.
Realisasi 2025 Lampaui Parameter Keberhasilan
Sepanjang 2025, realisasi distribusi biodiesel tercatat mencapai 14,94 juta KL dari total alokasi 15,616 juta KL atau setara 95,67%. Angka tersebut melampaui parameter keberhasilan yang ditetapkan pemerintah, yakni di atas 95%.
Capaian ini dinilai sebagai indikator bahwa tata kelola distribusi semakin solid. Penyerapan yang hampir menyentuh target penuh menunjukkan koordinasi antara produsen, distributor, dan badan usaha penyalur berjalan efektif.
“Dari total alokasi 15,616 juta KL di tahun 2025 sampai bulan Desember itu terserap distribusi domestik sekitar 14,94, artinya hampir 95,67. Jadi parameter dari pihak EBTKE kalau di atas 95 biasanya itu sudah berhasil,” ujarnya.
Keberhasilan tersebut menjadi pijakan penting untuk melangkah ke tahap berikutnya dalam roadmap biodiesel nasional.
Dengan bertambahnya BU BBN serta meluasnya titik serah menjadi 85 lokasi, ekosistem distribusi semakin terdiversifikasi. Risiko gangguan suplai dapat ditekan, sementara fleksibilitas logistik meningkat di berbagai wilayah.
Ke depan, penguatan struktur pelaku usaha ini akan menjadi modal penting dalam menghadapi agenda peningkatan campuran biodiesel. Meski pada 2026 masih berada pada level B40, kesiapan kapasitas BU BBN dan distribusi akan menjadi faktor penentu dalam transisi menuju B50.
Industri menilai, dengan fondasi yang telah terbangun dan realisasi distribusi yang konsisten di atas 95%, langkah menuju B50 bukan sekadar wacana, melainkan tahapan lanjutan yang membutuhkan kesiapan menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Catat! Jadwal Lengkap KRL Jogja Solo 27 dan 28 Februari 2026 dari Pagi sampai Malam
- Jumat, 27 Februari 2026
Jadwal Lengkap Bus DAMRI Jogja–YIA 27 Februari 2026, Cek Jam Operasional dan Tarif Terbaru
- Jumat, 27 Februari 2026
Berita Lainnya
Pertamina Bentuk Satgas RAFI, Jamin Pasokan BBM dan Avtur Aman Saat Mudik Lebaran 2026
- Jumat, 27 Februari 2026
Tarif Listrik PLN Terbaru 1 Maret 2026 Resmi Tidak Naik, Ini Rincian Lengkap Semua Golongan
- Jumat, 27 Februari 2026
Rekomendasi 6 Rumah Murah Bogor Harga Rp185 Juta, Akses Mudah dan Lokasi Potensial
- Jumat, 27 Februari 2026












