Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Menguat terhadap Dolar AS Selasa 27 Januari 2026
- Selasa, 27 Januari 2026
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menunjukkan penguatan pada awal pekan.
Setelah beberapa kali nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, mata uang Garuda justru mampu berbalik arah dan menguat. Kondisi ini menandai adanya respons positif pasar terhadap kombinasi faktor global dan domestik yang berkembang dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,23% ke posisi Rp16.782 per dolar AS pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026. Pada saat yang sama, indeks yang mengukur kinerja dolar AS tercatat melemah 0,40% ke level 97,21. Pergerakan ini menunjukkan adanya tekanan pada mata uang Amerika Serikat sekaligus memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Baca JugaUpdate Harga Emas Perhiasan Selasa 27 Januari 2026 Naik Lagi, Ini Daftarnya
Penguatan rupiah tersebut dinilai tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai sentimen yang muncul bersamaan. Dari sisi eksternal, data ekonomi Amerika Serikat menjadi salah satu pemicu. Sementara dari dalam negeri, kebijakan serta langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI) turut memberikan dukungan terhadap pergerakan rupiah di pasar.
Sentimen Global Dorong Pelemahan Dolar AS
Pengamat Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai penguatan rupiah berkaitan erat dengan kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS), ditambah dengan langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI) hingga terpilihnya Deputi Gubernur BI baru, Thomas Djiwandono.
Menurutnya, data ekonomi AS yang dirilis berada di bawah ekspektasi pasar sehingga menekan permintaan terhadap dolar AS. Kondisi ini membuka peluang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak menguat. Nailul menjelaskan bahwa dengan data AS yang kurang baik, permintaan terhadap dolar cenderung berkurang dan hal ini menjadi sentimen positif bagi rupiah.
Ia juga menyoroti bahwa pergerakan rupiah yang menguat tidak terlepas dari momen yang terjadi di dalam negeri. Terpilihnya Deputi Gubernur BI baru dinilai turut membentuk persepsi pasar yang lebih optimistis terhadap kebijakan moneter ke depan. “Selain faktor fundamental, waktu penguatan rupiah juga dinilai bertepatan dengan terpilihnya Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono. Momentum tersebut dinilai turut membentuk sentimen positif di pasar. Isu ini bisa saja dimanfaatkan pasar untuk menggoreng sentimen,” ujarnya.
Dengan melemahnya dolar AS dan munculnya sentimen positif terhadap rupiah, pasar valuta asing menunjukkan respons yang cukup cepat. Rupiah pun mampu menguat setelah sebelumnya berada di bawah tekanan.
Peran Bank Indonesia dan Cadangan Devisa
Dari sisi domestik, peran Bank Indonesia menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Nailul menyebut bahwa BI telah menyampaikan posisi cadangan devisa (cadev) yang masih kuat. Informasi ini memberi keyakinan kepada pasar bahwa otoritas moneter memiliki ruang yang memadai untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Ia menambahkan bahwa cadangan devisa terlihat dikuras untuk melakukan intervensi terhadap rupiah. Langkah ini menunjukkan keseriusan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Dengan cadangan devisa yang memadai, BI dinilai mampu meredam gejolak di pasar dan menjaga rupiah agar tidak bergerak terlalu liar.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan kelanjutan kebijakan dan komunikasi dari pemerintah serta otoritas moneter. Direktur Utama OCBC Sekuritas Betty Goenawan mengatakan pelaku pasar berharap informasi dan kebijakan positif dari pemerintah seperti yang dilakukan pada hari ini dapat terus berlanjut sehingga menopang penguatan rupiah secara berkelanjutan.
“Kalau untuk hari ini ya kami harapkan beberapa informasi positif dari yang dikeluarkan pemerintah ini [Cadangan Devisa dan pemilihan Deputi Gubernur BI] akan berlanjut mendukung penguatan rupiah,” katanya.
Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada satu faktor, melainkan memerlukan konsistensi kebijakan serta komunikasi yang jelas agar pasar tetap percaya terhadap arah perekonomian nasional.
Kondisi Ekonomi Domestik Masih Solid
Selain faktor kebijakan, kondisi ekonomi dalam negeri juga menjadi penopang bagi rupiah. Betty menyebut bahwa dari sisi ekonomi domestik, kinerja sektor riil masih tergolong solid. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur Indonesia tercatat tetap berada di zona ekspansif, mencerminkan aktivitas produksi yang masih terjaga.
“Secara ekonomi sebenarnya masih bagus. PMI manufaktur masih positif, jadi dari sisi produksi kita masih kuat. Pelemahan rupiah sebelumnya lebih dipengaruhi faktor lain,” jelasnya.
Data PMI yang berada di zona ekspansif menunjukkan bahwa sektor industri masih bergerak aktif dan permintaan tetap terjaga. Hal ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian, sekaligus memberi dasar yang lebih kuat bagi nilai tukar rupiah. Ketika sektor riil tetap tumbuh, kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional juga cenderung meningkat.
Penguatan rupiah yang terjadi pada awal pekan ini pun tidak bisa dilepaskan dari persepsi bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil di tengah dinamika global. Kombinasi antara kebijakan moneter, cadangan devisa yang kuat, serta kinerja sektor riil yang solid menjadi fondasi penting bagi pergerakan mata uang.
Prospek Pasar Saham dan Sektor Penggerak
Sejalan dengan optimisme terhadap rupiah, pandangan positif juga diarahkan ke pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih memiliki ruang penguatan hingga menembus level 10.000 pada 2026. Sejumlah sektor diperkirakan menjadi motor penggerak utama.
Sektor perbankan dinilai memiliki fundamental yang kuat, terutama jika sentimen pasca-keputusan MSCI membaik. Selain itu, sektor pertambangan, khususnya mineral dan emas, diproyeksikan tetap solid. Sektor barang konsumsi (consumer products) juga dinilai masih menyimpan peluang pertumbuhan.
Dengan prospek tersebut, pasar saham diharapkan dapat bergerak sejalan dengan penguatan rupiah. Ketika nilai tukar lebih stabil, investor cenderung lebih percaya diri untuk menempatkan dananya di pasar keuangan domestik. Hal ini dapat menciptakan efek berantai yang mendukung stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, penguatan rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026 mencerminkan hasil dari berbagai sentimen yang saling terkait. Data ekonomi AS yang berada di bawah ekspektasi, langkah stabilisasi Bank Indonesia, serta momentum terpilihnya Deputi Gubernur BI baru menjadi faktor yang membentuk persepsi positif pasar.
Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik yang masih solid turut memperkuat posisi rupiah. PMI manufaktur yang berada di zona ekspansif menunjukkan aktivitas produksi yang tetap terjaga, sementara optimisme terhadap pasar saham memberi tambahan sentimen positif.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah memiliki peluang untuk tetap bergerak stabil dalam jangka pendek. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan kebijakan, data ekonomi, serta dinamika glob
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Harga Token Listrik PLN Periode Januari 2026 Tetap Stabil, Begini Cara Hitung kWh
- Selasa, 27 Januari 2026
Sriwijaya Capital Perkuat Transisi Energi Indonesia Lewat Investasi PLTS
- Selasa, 27 Januari 2026
Semen Baturaja Resmi Berstatus Persero dengan Alamat Kantor Baru di 2026
- Selasa, 27 Januari 2026
CLEO Siapkan Tiga Pabrik Baru Dukung Ekspansi Nasional 2026 AMDK Indonesia
- Selasa, 27 Januari 2026
Berita Lainnya
BPS Catat Harga Bawang Putih Terus Naik, Kini Tembus Rp39.810 per Kg
- Selasa, 27 Januari 2026
Update Harga Perak Antam 27 Januari 2026, Naik Tajam ke Rp66.750 per Gram
- Selasa, 27 Januari 2026
Satu Data Indonesia Dorong Percepatan Kopdes Merah Putih Nasional Pemerintah Daerah
- Selasa, 27 Januari 2026
Update Harga Emas Antam 27 Januari 2026: Tetap Rp2,917.000 Juta per Gram
- Selasa, 27 Januari 2026












