Selasa, 27 Januari 2026

Menag Resmikan Rumah Moderasi di Sangha Theravada untuk Kerukunan Nasional

Menag Resmikan Rumah Moderasi di Sangha Theravada untuk Kerukunan Nasional
Menag Resmikan Rumah Moderasi di Sangha Theravada untuk Kerukunan Nasional

JAKARTA - Penguatan nilai toleransi dan spiritualitas lintas iman kembali ditegaskan melalui langkah konkret pemerintah. Kali ini, Kementerian Agama mengukuhkan Rumah Moderasi Beragama di lingkungan Wisma Sangha Theravada Indonesia, Jakarta. 

Pengukuhan ini menjadi simbol bahwa moderasi beragama tidak hanya diwacanakan, tetapi juga diwujudkan dalam ruang nyata yang dapat dimanfaatkan oleh umat lintas agama untuk belajar, berdialog, dan bertumbuh bersama.

Rumah Moderasi Beragama diharapkan menjadi tempat refleksi dan praktik kehidupan spiritual yang tidak terjebak pada formalitas, melainkan menyentuh dimensi batiniah manusia. Keberadaannya juga menegaskan bahwa moderasi beragama bukan milik satu kelompok, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.

Baca Juga

Delapan Rekomendasi DPR untuk Mempercepat Reformasi Polri Secara Nasional

Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa dunia modern yang serba cepat membutuhkan keseimbangan antara pikiran dan batin. Menurutnya, ruang-ruang kontemplatif sangat penting agar manusia tidak terjebak pada arus materialisme dan konflik kepentingan.

“Dunia tanpa kontemplasi itu akan berbahaya. Dunia harus dibimbing oleh dua kekuatan, yakni kekuatan konsentrasi dan kekuatan kontemplasi,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Rumah Moderasi sebagai Ruang Praktik Spiritual

Menag menjelaskan bahwa kehadiran Rumah Moderasi Beragama di Wisma Sangha Theravada diharapkan menjadi pusat praktik spiritual yang mengajak umat untuk berkontemplasi serta mengendalikan kemelekatan terhadap hal-hal duniawi. Dalam pandangannya, kemelekatan yang berlebihan terhadap satu objek, baik materi maupun jabatan, sering menjadi sumber kegagalan manusia dalam membangun kehidupan yang seimbang.

Rumah Moderasi Beragama, kata Menag, bukan hanya simbol kebersamaan lintas agama, tetapi juga ruang pembelajaran bagi umat untuk melatih pengendalian diri dan kesadaran spiritual. Ia berharap tempat ini mampu menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan tidak semata-mata tentang kepemilikan, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam menyikapi realitas.

“Kemelekatan itu adalah awal dari sebuah kegagalan. Kalau kita melekat pada uang, materi, dan jabatan,” katanya.

Melalui pendekatan ini, Rumah Moderasi Beragama diharapkan melahirkan ajakan kepada umat untuk mengembangkan kemampuan melepaskan diri dari ketergantungan berlebihan pada satu objek tertentu. Hal tersebut dianggap penting agar manusia dapat menjalani kehidupan sosial yang lebih harmonis dan tidak mudah terjebak pada konflik.

Moderasi Beragama dan Kepedulian terhadap Alam

Selain menekankan dimensi spiritual, Menag juga mengaitkan moderasi beragama dengan kepedulian terhadap lingkungan. Ia menyebut bahwa Rumah Moderasi Beragama merupakan rumah besar bagi kemanusiaan yang harus menumbuhkan nilai kasih sayang dan kepedulian, tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam.

Menurutnya, cinta terhadap alam merupakan bagian dari ekspresi iman yang sejati. Rumah Moderasi tidak boleh berhenti sebagai ruang diskusi atau perdebatan, tetapi harus melahirkan aksi nyata yang berdampak langsung bagi lingkungan sekitar.

“Rumah moderasi ini harus melahirkan tangan-tangan yang menanam pohon, bukan hanya yang pintar berdebat. Jika Penciptanya sakral, maka alam ciptaan-Nya juga harus disakralkan,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya berhubungan dengan toleransi antarumat, tetapi juga dengan tanggung jawab ekologis. Rumah Moderasi diharapkan mampu menggerakkan kesadaran kolektif untuk merawat bumi sebagai bagian dari amanah spiritual.

Menjawab Tantangan Relasi Antar-Umat di Era Digital

Ketua Wisma Sangha Theravada Indonesia Bhante Dhammasubho Mahathera menyampaikan bahwa kehadiran Rumah Moderasi Beragama sangat relevan di tengah perubahan zaman. Ia menilai perkembangan teknologi komunikasi membawa dampak ganda bagi relasi manusia.

Di satu sisi, teknologi membuat jarak fisik antar-manusia terasa semakin dekat. Namun di sisi lain, hubungan batin antar-jiwa justru berpotensi semakin menjauh. Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi kehidupan beragama dan bermasyarakat.

“Belakangan ini kita merasakan bahwa teknologi membuat jarak antar-jagat semakin dekat, tetapi hubungan antar-jiwa semakin jauh,” ujar Bhante Dhammasubho.

Menurutnya, Rumah Moderasi Beragama dapat menjadi sarana komunikasi dan sambung rasa antarumat beragama di tengah kondisi tersebut. Tempat ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan nyata, bukan sekadar simbolis, sehingga masyarakat dapat kembali membangun hubungan batin yang lebih hangat dan manusiawi.

Ruang Dialog dan Perjumpaan Lintas Iman

Bhante Dhammasubho juga menekankan pentingnya sikap saling mengenal antarumat beragama sebagai fondasi kehidupan yang rukun. Tanpa perjumpaan yang nyata, menurutnya, rasa saling memahami sulit tumbuh. Rumah Moderasi Beragama diharapkan dapat menjadi wadah dialog dan kerja bersama lintas iman.

Ia berharap tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai pusat kegiatan yang hidup, di mana umat dari berbagai latar belakang agama dapat berdiskusi, berbagi pengalaman, dan bekerja sama untuk kepentingan bersama.

“Agama-agama harus saling mengenal satu dengan yang lain. Kalau kita tidak pernah bertemu, kita tidak bisa mengenal satu dengan yang lain,” katanya.

Dengan demikian, Rumah Moderasi Beragama di Wisma Sangha Theravada Indonesia diproyeksikan menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat nilai kemanusiaan. Kehadirannya diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa perbedaan keyakinan bukan alasan untuk berjarak, melainkan peluang untuk saling belajar dan menguatkan.

Pengukuhan Rumah Moderasi Beragama ini menegaskan komitmen pemerintah dalam merawat keberagaman Indonesia. Melalui pendekatan spiritual, ekologis, dan dialogis, Rumah Moderasi diharapkan menjadi pusat praktik moderasi yang tidak hanya berbicara tentang toleransi, tetapi juga tentang bagaimana manusia membangun relasi yang seimbang dengan sesama dan alam.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Indonesia Terima Tiga Jet Tempur Rafale, Ini Spesifikasi Lengkapnya dan Keunggulan

Indonesia Terima Tiga Jet Tempur Rafale, Ini Spesifikasi Lengkapnya dan Keunggulan

Komdigi Tegaskan Grok Masih Diblokir Sementara Menunggu Kepatuhan Regulasi Indonesia Digital

Komdigi Tegaskan Grok Masih Diblokir Sementara Menunggu Kepatuhan Regulasi Indonesia Digital

Update Harga Pangan Selasa 27 Januari 2026, Cabai dan Bawang Merah Nasional Kompak Turun

Update Harga Pangan Selasa 27 Januari 2026, Cabai dan Bawang Merah Nasional Kompak Turun

BNI Salurkan Rp1,5 Triliun Dukung Program Makan Bergizi Gratis Nasional Pemerintah

BNI Salurkan Rp1,5 Triliun Dukung Program Makan Bergizi Gratis Nasional Pemerintah

Kemenag Fokus Rehabilitasi Pendidikan dan Ibadah Pascabanjir di Wilayah Terdampak

Kemenag Fokus Rehabilitasi Pendidikan dan Ibadah Pascabanjir di Wilayah Terdampak