Minggu, 25 Januari 2026

Adaro Andalan Siapkan Strategi Jangka Panjang Menuju Era Tanpa Batu Bara 2060

Adaro Andalan Siapkan Strategi Jangka Panjang Menuju Era Tanpa Batu Bara 2060
Adaro Andalan Siapkan Strategi Jangka Panjang Menuju Era Tanpa Batu Bara 2060

JAKARTA - Di tengah tekanan global untuk menghentikan penggunaan energi fosil pada 2060, perusahaan tambang besar seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) mulai menyusun strategi transisi lebih awal. 

Dengan dominasi pendapatan dari batu bara yang masih mencapai 95% pada 2025, AADI menghadapi tantangan besar: bagaimana menjaga bisnis tetap kompetitif sekaligus mempersiapkan masa depan ketika energi fosil benar-benar ditinggalkan. 

Dalam forum Indonesia Weekend Miner, AADI menegaskan bahwa kunci transformasi bukan hanya diversifikasi aset, tetapi peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu beradaptasi ketika kontrak batu bara berakhir dan kebutuhan energi nasional berubah.

Baca Juga

Mudik Lebaran 2026: KAI Sumut Sediakan 5.616 Kursi Per Hari, H-45 Dibuka

Transformasi Bisnis Mulai Dipersiapkan Sejak Dini

Komitmen pemerintah untuk meninggalkan energi fosil mulai 2060 menjadi patokan emiten batu bara agar bersiap sejak dini agar melakukan transformasi bisnis, tak terkecuali PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI). 

Saat ini, perseroan masih mengandalkan batu bara sebagai lini bisnis utama sumber pundi-pundi pendapatan. Merujuk laporan keuangan Januari-September 2025, penjualan batu bara secara total mencapai US$3,45 miliar, atau sekitar 95% dari total penjualan US$3,61 miliar.

Adapun, AADI kini memiliki 6 entitas anak usaha di bidang pertambangan, terdiri dari PT Adaro Indonesia, PT Laskar Semesta Alam, PT Semesta Centramas, PT Paramitha Cipta Sarana, PT Mustika Indah Permai, dan perusahaan patungan bernama Kestral Coal Resources.

Persiapan SDM sebagai Kunci Menuju 2060

Direktur AADI sekaligus Presiden Direktur PT Adaro Indonesia, Priyadi mengatakan saat ini PT Adaro Indonesia tengah beroperasi berdasarkan kontrak perpanjangan 10 tahun pertama izin usaha pertambangan khusus (IUPK). Sesuai mekanismenya, perseroan dapat kembali memperpanjang izin 10 tahun lagi sehingga akan habis di 2042.

Dalam jangka panjang, Priyadi mengatakan perusahaan terus berupaya meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) perusahaan sehingga mampu melakukan inovasi terus menerus menyesuaikan perkembangan industri. 

“Jadi inilah yang kita kembangkan supaya nanti misalnya kontrak batu bara kita ini berakhir, kita sudah punya sumber daya manusia yang siap untuk dikembangkan, apakah di komoditas lain. Di 2060 kan di Indonesia energi fosil sudah ditiadakan. Jadi ini yang kita siapkan,” ujarnya.

Pendapatan Non-Batu Bara Mulai Tumbuh, Meski Masih Kecil

Adapun menilik segmen pendapatan AADI lainnya, penjualan segmen logistik sepanjang 9 bulan pertama 2025 berkontribusi sebesar US$139,84 juta, sementara segmen lain-lain sebesar US$9,73 juta. Segmen non-batu bara ini secara total mengalami peningkatan secara tahunan, sedangkan yang batu bara menurun sejalan dengan harga komoditas yang tertekan.

Priyadi bilang, AADI sebagai entitas induk berupaya mengintegrasikan lintas segmen bisnis untuk menjamin kepastian delivery kepada pelanggan dan efisiensi menjadi nilai perusahaan agar dapat bersaing dalam industri batu bara. 

“Pelanggan [batu bara] kita itu terutama dari China dan India, dan mereka itu produsen batu bara. Sehingga kita harus bisa berkompetisi, kompetitif terhadap produksi mereka juga. 

Kalau tidak, mereka akan menggunakan produksinya sendiri. Ini lah kita pastikan bahwa supply chain kita efisien. Maka dari itu kita integrasikan mulai dari tambang sampai ke delivery pelanggan,” tandasnya.

Integrasi Bisnis Jadi Strategi Utama Efisiensi

Menilik struktur perusahaan AADI, selain segmen bisnis pertambangan perseroan juga memiliki entitas bisnis di bidang logistik seperti PT Adaro Logistics sampai PT Barito Galangan Nusantara, kemudian di segmen bisnis pengelolaan air perseroan juga memiliki anak usaha PT Adaro Tirta Mandiri sampai PT Drupadi Tirta Intan, di segmen bisnis pengelolaan aset lahan ada anak usaha PT Adaro Persada Mandiri hingga PT Hutan Amanah Lestari, terakhir di segmen bisnis lainnya perseroan punya anak usaha Adaro International (Singapore) Pte. Ltd., dan PT Kaltara Power Indonesia.

Masa Depan Energi Nasional: Tantangan dan Peluang

Langkah AADI ini sejalan dengan arahan pemerintah yang menargetkan Indonesia bebas energi fosil pada 2060. Hal ini memaksa perusahaan tambang untuk melakukan transformasi jauh sebelum masa itu tiba. 

Dengan dominasi pendapatan batu bara, AADI tidak hanya harus menjaga kelangsungan bisnis dalam jangka pendek, tetapi juga menyiapkan alternatif yang berkelanjutan di masa depan.

Perubahan paradigma ini menuntut perseroan untuk meningkatkan kualitas SDM dan inovasi teknologi agar siap beralih ke komoditas atau bisnis lain yang relevan dengan kebutuhan energi nasional yang baru. 

Dalam konteks tersebut, integrasi lintas segmen bisnis dan efisiensi supply chain menjadi strategi yang dipilih AADI untuk mempertahankan daya saing sekaligus menyiapkan masa depan tanpa energi fosil.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Multi Medika Bidik Pertumbuhan Pendapatan 10–15 Persen per Tahun

Multi Medika Bidik Pertumbuhan Pendapatan 10–15 Persen per Tahun

WIKA Beton Perkuat Proyek MRT Fase 2A dengan Kontrak Rp409 Miliar

WIKA Beton Perkuat Proyek MRT Fase 2A dengan Kontrak Rp409 Miliar

Cek Jadwal dan Rute  Lengkap KRL Solo–Jogja 25 Januari 2026, Mulai Pagi hingga Malam

Cek Jadwal dan Rute Lengkap KRL Solo–Jogja 25 Januari 2026, Mulai Pagi hingga Malam

Update Jadwal Terbaru KA Bandara YIA 25 Januari 2026: Lengkap Harga Tiket Reguler & Xpress

Update Jadwal Terbaru KA Bandara YIA 25 Januari 2026: Lengkap Harga Tiket Reguler & Xpress

Jadwal Terbaru DAMRI Jogja–Semarang PP Lewat Borobudur dan Kota Lama

Jadwal Terbaru DAMRI Jogja–Semarang PP Lewat Borobudur dan Kota Lama