JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus mendorong inovasi dalam pemanfaatan energi panas bumi untuk sektor pertanian, khususnya pengolahan kopi.
Salah satu terobosan terbaru adalah kopi panas bumi, yaitu biji kopi yang dikeringkan dengan menggunakan uap panas bumi dari geothermal dry house.
Pjs. General Manager PGE Area Kamojang, Hendrik K. Sinaga, menjelaskan bahwa biji kopi yang diolah melalui sistem ini berasal dari para petani yang tergabung dalam Geothermal Coffee Process (GCP). Dengan menggunakan panas bumi, proses pengeringan kopi menjadi lebih cepat dan bersih dibandingkan metode konvensional.
Baca JugaBulog Perkuat Layanan Pangan Nasional Melalui Penerapan Sistem Margin Fee
“Biji kopi dikeringkan dengan pemanfaatan panas bumi secara langsung, sehingga proses pengeringan hanya membutuhkan waktu 3–7 hari,” kata Hendrik di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) PGE Kamojang, Kabupaten Bandung. Sebagai perbandingan, pengeringan konvensional menggunakan sinar matahari bisa memakan waktu 30–45 hari, menjadikan metode panas bumi lebih efisien hingga 7 kali lipat.
Kapasitas dan Kualitas Dry House yang Stabil
PGEO menjamin kapasitas pengeringan cukup besar, mulai dari 500 kilogram hingga 2 ton biji kopi per siklus. Temperatur dry house dikontrol antara 41 hingga 50 derajat Celsius untuk menjaga kualitas biji kopi.
Selain efisiensi waktu, pengeringan dengan panas bumi juga meningkatkan daya tahan biji kopi. Proses berlangsung 24 jam tanpa henti, sehingga biji kopi terhindar dari fermentasi berlebih yang sering terjadi pada pengeringan konvensional, yang dapat memengaruhi cita rasa. “Dengan panas bumi, proses lebih stabil dan hasilnya lebih awet,” ujar Hendrik.
Ekspansi Pasar Kopi Panas Bumi ke Mancanegara
PGEO tidak hanya memfokuskan pada efisiensi produksi, tetapi juga memperluas akses pasar kopi panas bumi. Produk ini kini diekspor ke beberapa negara, termasuk Eropa, Jepang, Korea, dan Arab Saudi. Ekspor perdana dilakukan pada Juli 2025, dengan total volume mencapai 15 ton kopi.
Langkah ini sekaligus membuka peluang pasar baru bagi petani lokal sekaligus memperkuat branding kopi Indonesia berbasis energi terbarukan. Ekspor ini juga menjadi bukti bahwa inovasi energi panas bumi dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk sektor energi, tetapi juga untuk produk pertanian bernilai tambah tinggi.
Memberdayakan Petani Lokal Melalui Geothermal Coffee Process
PGEO kini bermitra dengan 18 kelompok tani, memberdayakan 312 petani kopi lokal di lahan seluas 80 hektare di sekitar WKP PGE Kamojang. Kerja sama ini tidak hanya memberikan akses teknologi pengeringan yang modern, tetapi juga meningkatkan kualitas dan volume produksi kopi lokal.
Sejak memulai program ini, PGEO telah mencatat pertumbuhan signifikan dalam penjualan kopi panas bumi. Sepanjang 2024, total penjualan mencapai 4,9 ton green beans, 640 kg roasted beans, dan 17.500 bungkus ground coffee. Omzet yang dihasilkan mencapai Rp 863,9 juta, menjadi bukti nyata manfaat ekonomi bagi petani lokal.
Keunggulan Energi Terbarukan dalam Pengolahan Kopi
Pemanfaatan panas bumi sebagai energi pengeringan kopi menjadi contoh bagaimana energi terbarukan dapat diterapkan di sektor pertanian. Metode ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menekan biaya produksi karena mengurangi ketergantungan pada sinar matahari dan bahan bakar tambahan.
“Penggunaan panas bumi mampu menghasilkan kopi berkualitas tinggi, lebih cepat, dan dengan nilai tambah yang lebih tinggi bagi petani,” kata Hendrik. Hal ini sejalan dengan strategi PGEO dalam memaksimalkan potensi energi geothermal untuk berbagai sektor ekonomi, termasuk industri makanan dan minuman.
Peluang Masa Depan dan Diversifikasi Produk
Dengan inovasi ini, PGEO membuka peluang diversifikasi produk kopi lokal. Selain green beans dan roasted beans, ground coffee hasil panas bumi memiliki kualitas yang stabil sehingga menarik bagi konsumen domestik maupun ekspor.
Program ini juga diharapkan dapat menjadi model pengembangan produk pertanian berbasis energi terbarukan di daerah lain. Dengan memanfaatkan sumber daya panas bumi yang melimpah di Indonesia, inovasi ini berpotensi meningkatkan produktivitas dan daya saing produk lokal di pasar global.
Pemanfaatan panas bumi dalam produksi kopi yang dilakukan PGEO menjadi inovasi strategis yang menyatukan energi terbarukan dan pertanian. Selain mempercepat proses produksi, metode ini meningkatkan kualitas biji kopi, memberdayakan petani lokal, dan membuka peluang ekspor. Dengan dukungan teknologi dan infrastruktur geothermal yang handal, kopi panas bumi kini menjadi simbol keberhasilan integrasi energi bersih dengan ekonomi lokal.
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Mendagri Nilai Penugasan Taruna KKP Perkuat Percepatan Pemulihan Bencana
- Kamis, 15 Januari 2026
Menag Dorong Peran Strategis BP4 Kepri Cegah Lonjakan Perceraian Daerah
- Kamis, 15 Januari 2026
Kemenhaj Perketat Sistem Kesehatan Haji dengan Penguncian Data Digital
- Kamis, 15 Januari 2026
Berita Lainnya
Produksi dan Konsumsi Jagung Melonjak 23 Persen, Pemerintah Siapkan Ekspor Nasional
- Sabtu, 10 Januari 2026
Pertamina Klaim Distribusi BBM Berangsur Normal, 97 Persen SPBU Aceh Sudah Aktif
- Sabtu, 10 Januari 2026
Rekomendasi 5 Rumah Murah di Probolinggo dengan Harga Terjangkau Mulai Rp150 Juta
- Sabtu, 10 Januari 2026
Terpopuler
1.
7 Cara Menyimpan Nasi Matang Agar Tetap Pulen Tanpa Rice Cooker
- 15 Januari 2026
2.
3.
4.
Durian Tetap Segar dan Tak Bau, Ini Cara Menyimpannya di Kulkas
- 15 Januari 2026













