Akses Energi Bersih Bantu Majukan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali Dewa Made Indra. (Sumber Foto: denpasar.kompas.com)
Kamis, 02 Juli 2026 | 15:13:22 WIB

MALUKU - Masyarakat pesisir Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi biru nasional. 

Namun, di balik besarnya potensi sektor perikanan, akuakultur, dan industri berbasis kelautan, banyak masyarakat pesisir yang masih menghadapi ketidakstabilan pendapatan meskipun berkontribusi besar terhadap nilai ekonomi yang dihasilkan.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, nilai ekspor perikanan Indonesia pada tahun 2025 mencapai rekor tertinggi sebesar US$6,27 miliar. 

Indonesia juga memiliki cadangan karbon mangrove terbesar di dunia, dengan sekitar 3,1 miliar ton karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir. 

Namun, keterbatasan fasilitas rantai dingin (cold storage), kapasitas pengolahan, infrastruktur logistik, dan akses pasar menyebabkan sebagian besar nilai ekonomi tersebut belum sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat di wilayah penghasilnya.

Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP) bekerja sama dengan Konservasi Indonesia serta berbagai mitra, termasuk International Pole and Line Foundation (IPNLF) dan GIZ, mendukung masyarakat pesisir di Maluku untuk mengidentifikasi kebutuhan lokal sekaligus mengembangkan solusi terintegrasi yang mampu memperkuat mata pencaharian, meningkatkan ketahanan masyarakat, serta melindungi ekosistem laut.

"Masyarakat pesisir Indonesia sejatinya telah memiliki sumber daya, pengetahuan, dan potensi ekonomi yang dibutuhkan untuk berkembang. Tantangannya adalah memastikan investasi pada energi bersih, infrastruktur, akses pasar, dan pengelolaan ekosistem berjalan secara terpadu sehingga masyarakat dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil yang kami ciptakan," ujar Indonesia Country Lead, Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP), Rizky Fauzianto, dalam keterangan resminya, Rabu, (1/7).

Di banyak desa nelayan, keterbatasan akses terhadap es, fasilitas penyimpanan dingin, dan transportasi yang andal memaksa nelayan menjual hasil tangkapan secepat mungkin dengan harga rendah. 

Kehilangan hasil pascapanen bahkan dapat mencapai 30–50 persen. Kondisi serupa dialami petani rumput laut yang sebagian besar masih mengekspor produk dalam bentuk bahan baku kering.

Ketersediaan energi yang andal menjadi kunci mengatasi tantangan tersebut. Penerapan energi bersih dapat mendukung operasional produksi es, pengolahan hasil perikanan, konektivitas digital, hingga layanan kesehatan. Melalui pendekatan “Sun to Sea”, inisiatif ini menghubungkan pemanfaatan energi untuk kegiatan produktif dengan penguatan mata pencaharian berkelanjutan serta pengelolaan ekosistem.

"Peluang terbesar yang kami miliki adalah menghubungkan berbagai investasi tersebut di tingkat komunitas. Ketika energi, mata pencaharian, akses pasar, konservasi, dan ketahanan masyarakat dirancang untuk saling terhubung, masing-masing akan saling mendukung satu sama lain dengan cara yang tidak dapat dicapai melalui proyek-proyek yang berjalan sendiri-sendiri," kata Rizky Fauzianto.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo