Bendungan Wonorejo Menurun, Pasokan Listrik PLTA Dibatasi

Penurunan elevasi air Bendungan Wonorejo menyebabkan pembatasan operasional PLTA menjadi lima jam per hari. (Sumber Foto: NET)
Kamis, 02 Juli 2026 | 15:13:22 WIB

TULUNGAGUNG - Musim kemarau mengakibatkan ketersediaan stok air di Bendungan Wonorejo, Tulungagung, mengalami penurunan. Akibatnya, durasi operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) kini dibatasi hanya berlangsung lima jam per hari.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Sungai Brantas 2, Perum Jasa Tirta 1, Nina Meitasari, menyatakan bahwa saat ini elevasi air di Bendungan Wonorejo telah turun 10 meter, dari sebelumnya 179 mdpl menjadi 169,74 mdpl.

“Tapi kondisi ini masih sesuai dengan pola yang kami buat melalui rencana alokasi air tahunan. Bendungan Wonorejo ini adalah tipe tahunan. Saat musim hujan untuk melakukan pengisian dan dijaga elevasinya sesuai pola, hingga musim penghujan lagi,” kata Nina Meitasari, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, sesuai pola yang disiapkan, PJT memproyeksikan penurunan ketinggian muka air bendungan akan dijaga hingga minimal 141 mdpl. “Itu dengan kondisi tanpa adanya inflow dari sungai yang memasok ke bendungan,” jelasnya.

Dengan kondisi penyusutan saat ini, operasional PLTA Wonorejo menjadi sektor yang paling terdampak. Pasokan air ke turbin yang sebelumnya mampu bertahan antara 8 hingga 24 jam, kini hanya bisa beroperasi selama lima jam per hari.

“Pasokan air ke turbin hanya lima jam, pada saat beban puncak di pukul 19.00-00.00 WIB. Sebelumnya saat puncak penghujan bisa sampai 24 jam. Untuk kapasitasnya running 5,7 MW dari kapasitas maksimal 6,3 MW,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa operasional pembangkit milik PLN tersebut tetap mengikuti pola pasokan air bendungan sesuai rencana alokasi. PLTA ini berperan sebagai penyangga beban puncak, sementara kebutuhan listrik dasar disuplai melalui sistem interkoneksi pembangkit besar lainnya.

Nina menegaskan bahwa berkurangnya pasokan air bendungan hanya berdampak pada operasional pembangkit listrik, sedangkan fungsi utama bendungan untuk irigasi tetap terjaga. 

“Prioritas kami adalah penyaluran air baku untuk irigasi pertanian dan penyediaan air untuk industri di hilir. Kami pastikan tidak terganggu, bahkan jika elevasi sampai 141 mdpl masih bisa untuk irigasi,” kata Nina.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo