Prospek Saham Tambang Tangguh, AMMN Jadi Pilihan Utama Investor

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi pilihan utama investor di sektor tambang mineral. (Sumber Foto: NET)
Rabu, 24 Juni 2026 | 15:01:33 WIB

JAKARTA – Prospek saham pada sektor tambang mineral terpantau masih tangguh, yang terdorong oleh meningkatnya harga sejumlah logam seperti nikel serta tembaga sebagai dampak dari minimnya pasokan dari produsen utama, yakni Indonesia. 

Di antara banyaknya emiten di sektor ini, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi opsi teratas yang menawarkan potensi keuntungan tinggi.

Merujuk pada riset Phintraco Sekuritas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk menunda rencana kenaikan tarif royalti mineral setelah menerima respons negatif dari pihak industri. Sementara itu, harga nikel mengalami kenaikan cukup signifikan di tahun 2026 yang didorong oleh potensi pengetatan pasokan secara global. 

Sentimen ini utamanya bersumber dari kebijakan pemerintah Indonesia yang memangkas kuota produksi bijih nikel tahun 2026 ke angka 260–270 juta ton, atau sekitar 17% lebih rendah dari estimasi realisasi produksi tahun 2025 yang sebesar 320 juta ton.

Menurut Phintraco, harga tembaga global pun ikut naik setelah Amerika Serikat menerapkan tarif 50% terhadap produk tembaga setengah jadi, yang sempat memicu kenaikan impor serta pelebaran selisih harga di Comex dan LME.

“ESDM memperkirakan harga tembaga tetap meningkat hingga 2032 seiring pertumbuhan permintaan yang melampaui pasokan, didukung oleh tren elektrifikasi, transisi energi, dan pembangunan infrastruktur,” tulis Phintraco, dikutip Selasa (23/6/2026).

Seiring dengan prospek tersebut, pemerintah sempat memberikan usulan kenaikan tarif royalti tembaga, di mana royalti konsentrat naik menjadi 9–13% dan katoda menjadi 7%–10%. 

ESDM juga memberikan usulan revisi skema royalti timah dengan tarif yang lebih progresif, termasuk menaikkan tarif maksimal dari 10% menjadi 20% bagi harga mineral acuan (HMA) di atas US$50 ribu per ton.

“Dengan rata-rata HMA timah yang telah mencapai US$51.101/ton pada awal 2026, produsen berpotensi dikenakan royalti tertinggi apabila kebijakan tersebut diterapkan,” tulis Phintaco.

Phintraco Sekuritas memberikan rating overweight untuk saham di sektor mineral dengan saham unggulan yaitu AMMN serta PT Merdeka Battery Material Tbk (MBMA). Risiko utama bagi saham di sektor ini mencakup ketidakjelasan perihal tarif royalti sejumlah logam, serta ketidakpastian kondisi geopolitik yang bisa mengakibatkan harga menjadi lebih volatil.

Phintraco menetapkan harga saham AMMN sebesar Rp8.700 yang mencerminkan potensi kenaikan 127%, lalu MBMA di level Rp790 (46,3%), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di level Rp5.000 (62%). 

Kemudian, Phintraco menetapkan target harga untuk saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebesar Rp6.950 (36,9%) serta PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar Rp3.800 (29,6%). Terakhir, terdapat saham TINS yang diberikan target harga Rp4.950 dengan potensi kenaikan saham mencapai 41,8%

 

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo