Pangkas Emisi, Anak Usaha SIG Ubah Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak

Proses olah limbah kelapa jadi cocopeat sebagai campuran pakan ternak. (Sumber Foto: b-news.id)
Rabu, 24 Juni 2026 | 07:37:10 WIB

JAKARTA - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) atau SIG terus memperluas penerapan program ekonomi sirkular di sekitar wilayah operasionalnya. 

Lewat anak usahanya, PT Solusi Bangun Andalas (SBA), perseroan meluncurkan program inovasi sosial bernama Sakeladera (Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera) demi menyulap limbah padat di kawasan wisata Pantai Lampuuk, Aceh, menjadi bahan baku pakan ternak yang bernilai ekonomi.

Langkah taktis ini dirancang untuk mengatasi masalah timbulan sampah kelapa pariwisata yang mencapai 60 ton per bulan. Sebelumnya, limbah tersebut hanya dibakar dan memicu pelepasan emisi karbon hingga 34,8 ton $CO_2$ per bulan ke atmosfer.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menerangkan bahwa program Sakeladera merupakan implementasi nyata dari Sustainability Roadmap SIG 2030, khususnya pada pilar “Perlindungan terhadap Lingkungan” serta “Menciptakan Nilai untuk Karyawan dan Komunitas”.

”Program Sakeladera menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan dengan rasio Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,5. Artinya, setiap Rp1 investasi yang ditanamkan perusahaan, berhasil menghasilkan Rp2,5 manfaat langsung bagi masyarakat. Inovasi sosial ini terbukti berhasil mengatasi kerusakan lingkungan sekaligus memacu kesejahteraan,” urai Vita dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (23/6/2026).

Efisiensi Biaya Pakan Unggas hingga 60 Persen

Melalui program ini, limbah sabut kelapa diekstraksi menggunakan mesin pencacah menjadi cocopeat (serbuk halus sabut kelapa) untuk digunakan sebagai campuran pakan ternak alternatif. Berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri, produk cocopeat tersebut dinyatakan lulus uji kelayakan karena kaya akan kandungan kalsium dan protein yang dibutuhkan hewan ternak.

Langkah substitusi ini menjadi angin segar bagi para peternak unggas lokal di Lhoknga, Aceh, yang sebelumnya mengalami ketergantungan pasokan pakan dari luar daerah dengan beban biaya tinggi mencapai Rp48 juta per bulan.

Rapor Dampak Lingkungan & Ekonomi Program Sakeladera SIG di Aceh

Indikator Performa ProgramKondisi Sebelum IntervensiCapaian Kinerja Pasca-ProgramDampak Riil & Output FinansialVolume Timbulan Sampah60 Ton / bulanTurun menjadi 20–24 Ton / bulanKebersihan Pantai Lampuuk terjaga; sisa limbah terserap ke pabrik pengolahan.

Biaya Operasional PakanRp48 Juta / bulanMenyusut menjadi Rp19,8 Juta / bulanHemat hingga 60% atau menghemat kas peternak Rp28,2 Juta/bulan.Emisi Gas Rumah Kaca34,8 Ton $CO_2$ / bulanMelandai drastisMenghentikan aktivitas pembakaran limbah terbuka di pesisir pantai.Rantai Pasok Lapangan KerjaTidak adaMenyerap 28 Tenaga Kerja LokalMelibatkan warga dari proses pemilahan, pengolahan, hingga jaringan distribusi.

Kolaborasi Bersama Bank Sampah Milenial

Dalam eksekusinya di lapangan, PT Solusi Bangun Andalas menggandeng komunitas lokal, Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil). Kemitraan ini merupakan kelanjutan dari program pelestarian pesisir “Sobat Si Abes” yang telah diinisiasi sejak 2022 lalu.

Muhammad Ikhsan, perwakilan warga dari Kelompok Usaha Puyuh Andalas binaan SBA, menyatakan bahwa pasokan cocopeat hasil olahan limbah ini merubah struktur biaya produksi kelompoknya secara signifikan. Sampah yang awalnya dibuang percuma kini menjadi komoditas substitusi yang mengamankan kelancaran operasional usaha peternakan di tingkat akar rumput.

Manajemen SIG menegaskan akan terus memacu seluruh entitas bisnis di bawah payung holding untuk melahirkan solusi konstruksi dan sosial yang adaptif. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kinerja fundamental korporasi, menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, sekaligus meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap komitmen hijau ESG emiten SMGR.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo