Papua Pegunungan Jadi Pilar Hijau Penyerap Karbon Nasional

Kementerian Kehutanan RI menggelar sosialisasi penyusunan rencana kerja Sub Nasional Indonesia’s Folu Net Sink 2030 yang dibuka secara langsung oleh Penjabat (Pj) Sekda Papua Pegunungan Wasuk D Siep di Wamena. (Sumber Foto: antaranews.com)
Rabu, 24 Juni 2026 | 07:37:10 WIB

WAMENA- Kementerian Kehutanan mendesak Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan untuk memperbanyak program penanaman pohon sebagai strategi utama dalam melestarikan hutan serta mendukung target net zero emission 2030.

Dalam kunjungan kerjanya ke Wamena, Dewan Penasihat Ahli Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 Kemenhut, Ruanda Agung Sigardiman, menyerahkan bibit pohon secara simbolis kepada Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan Papua Pegunungan, Lince Kogoya. 

Tindakan ini merupakan langkah sistematis untuk memulihkan tutupan hutan yang berkurang akibat ekspansi permukiman dan pembangunan infrastruktur perkantoran.

Ruanda menegaskan, hutan di Papua Pegunungan bukan sekadar kekayaan alam, melainkan “benteng terakhir” penyerap karbon bagi Indonesia. 

Dengan cakupan tutupan hutan yang masih melebihi 70 persen, wilayah ini menjadi penyimpan karbon terbesar di Indonesia—berbeda kondisi dengan Pulau Jawa yang tutupan hutannya tersisa 18 persen, atau wilayah Sumatera dan Kalimantan yang terus terdegradasi karena eksploitasi dan kebakaran.

“Papua adalah harapan terakhir kami untuk menjaga keseimbangan iklim nasional,” ujar Ruanda. “Kalau hutan di sini rusak, maka seluruh upaya penurunan emisi di pulau-pulau lain akan sia-sia.”

Program FOLU Net Sink 2030 yang dicanangkan Kemenhut bertujuan meningkatkan tutupan hutan melalui reboisasi, restorasi lahan, serta pemberdayaan masyarakat adat. Di Papua Pegunungan, metode ini dirancang berbasis kearifan lokal dengan melibatkan komunitas adat sebagai penjaga hutan dan pelaku utama penanaman.

Gubernur Papua Pegunungan, John Tabo, mengakui adanya tantangan besar terkait perubahan fungsi hutan menjadi kawasan permukiman dan jalan. Kendati demikian, ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memulihkan fungsi ekologis hutan sekaligus melindungi hak masyarakat adat atas tanah ulayat.

Dengan hutan tropis yang masih terjaga, Papua Pegunungan tidak hanya menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga iklim dunia. Kemenhut saat ini berupaya menggeser paradigma: dari memandang hutan sebagai sumber bahan baku, menjadi aset strategis nasional yang harus dijaga demi keberlangsungan generasi mendatang.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo