PM Inggris Keir Starmer Mundur, Dari Populer Menjadi Tak Disukai Warga
JAKARTA - Perdana Menteri (PM) Inggris, Keir Starmer, mengumumkan rencana pengunduran dirinya pada Senin (22/6/2026) melalui pernyataan resmi di depan Downing Street. Proses nominasi pemimpin baru akan dimulai pada 1 Juli, dan Inggris diharapkan memiliki PM baru pada bulan September mendatang.
Starmer telah memimpin Inggris selama dua tahun setelah memenangkan kursi kepemimpinan Partai Buruh dari Jeremy Corbyn pada 2024. Kemenangan Partai Buruh kala itu menjadi hasil terbaik dalam lebih dari dua dekade, sekaligus mengakhiri 14 tahun pemerintahan Partai Konservatif. Namun, masa popularitas Starmer terbilang singkat.
Sebulan pascapemilu, peringkat persetujuan bersihnya turun drastis, dengan 52% warga Inggris menyatakan kepada Ipsos bahwa negara mereka menuju "ke arah yang salah". Menurut YouGov, dukungan bersih terhadapnya berada di angka -48, menjadikannya perdana menteri paling tidak populer dalam sejarah saat ini. Setelah kehilangan 187 kursi dewan lokal tahun lalu, Partai Buruh kehilangan lebih dari 1.400 kursi pada pemilu Mei 2026 seiring kebangkitan Partai Reformasi Inggris.
Starmer memutuskan berhenti karena desakan oposisi dan tekanan internal partai. Sejumlah menteri senior dilaporkan telah menarik dukungan, sehingga ia mengumumkan keputusan untuk mundur pada Senin pagi.
Dalam pidato perdananya tahun 2024, Starmer menyebut pemerintahannya menemukan "lubang hitam senilai £22 miliar (sekitar Rp525 triliun) dalam keuangan publik" dan harus membuat "keputusan yang tidak populer" untuk memperbaikinya, termasuk kenaikan pajak.
Menurut Aliansi Pembayar Pajak, antara Juli 2024 hingga November 2025, pemerintahan Starmer memberlakukan atau menaikkan pajak setiap sepuluh hari, yang menyebabkan harapan pemilih akan perubahan hidup sirna.
"Kami sudah menjalani pengetatan anggaran Konservatif selama 14 tahun," kata pemimpin Partai Hijau, Zack Polanski, kepada wartawan pada bulan Mei. "Keir Starmer terpilih karena menjanjikan perubahan dan, sebenarnya, apa yang kami lihat hanyalah sedikit perubahan, dan dalam banyak hal keadaan menjadi lebih buruk," tambahnya.
Selain ekonomi, respons Starmer terhadap kerusuhan anti-imigrasi 2024, pertengkaran dengan Elon Musk soal RUU Keamanan Online, isu pro-Palestina, hingga skandal hubungan Peter Mandelson dengan Jeffrey Epstein, turut menggerus reputasinya.
Kini, warga Inggris merasa lebih miskin dan terpecah belah, sementara kemenangan telak Andy Burnham di Manchester dipandang sebagai dukungan bagi calon pemimpin baru yang lebih independen.