Transformasi Energi di Asia Tenggara Tarik Investasi Miliaran Dolar
JAKARTA – Asia Tenggara tengah memasuki fase penting dalam transformasi sektor energi. Pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, urbanisasi, dan meningkatnya kebutuhan listrik membuat kawasan ini membutuhkan sistem energi yang lebih besar, lebih tangguh, dan lebih berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, energi terbarukan mulai menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi regional. Perubahan ini terlihat dari meningkatnya investasi pada tenaga surya, hidro, angin, panas bumi, hingga penguatan jaringan listrik lintas negara.
Negara-negara di Asia Tenggara mulai melihat energi bersih bukan hanya sebagai agenda pengurangan emisi, tetapi juga sebagai sumber pertumbuhan yang dapat menarik investasi, memperkuat ketahanan energi, dan menciptakan peluang industri jangka panjang.
Dilansir dari berbagai sumber, kapasitas energi terbarukan di Asia Tenggara diproyeksikan meningkat dari 124,61 GW pada 2025 menjadi 178,06 GW pada 2030. Pertumbuhan ini mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 7,4%, menunjukkan momentum yang semakin kuat dalam transisi menuju ekonomi yang lebih rendah karbon.
Kebutuhan energi kawasan juga terus meningkat. Permintaan energi di Asia Tenggara diperkirakan tumbuh sekitar 3% setiap tahun hingga 2030, didorong oleh ekspansi industri, pertumbuhan kelas menengah, dan peningkatan aktivitas ekonomi.
Kondisi ini membuat negara-negara ASEAN perlu mempercepat pengembangan pembangkit energi bersih agar pertumbuhan ekonomi tidak semakin bergantung pada sumber energi fosil.
Gregoire Virat, Managing Partner Timur Tengah dan Asia di Eurogroup Consulting, menjelaskan bahwa transisi energi di Asia Tenggara tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas energi terbarukan, tetapi juga dengan perubahan arah investasi dan strategi pembangunan kawasan.
“Asia Tenggara berada pada titik penting dalam perjalanan energinya. Kawasan ini membutuhkan lebih banyak listrik untuk mendukung pertumbuhan, tetapi pada saat yang sama harus membangun sistem energi yang lebih bersih, efisien, dan tahan terhadap tekanan jangka panjang,” ujarnya.
Salah satu perkembangan paling menonjol adalah meningkatnya investasi energi bersih. Nilai investasi energi bersih di Asia Tenggara naik dari US$30 miliar pada 2015 menjadi US$47 miliar pada 2025, atau meningkat hampir 57% dalam satu dekade.
Angka ini menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai melihat energi terbarukan sebagai sektor yang semakin strategis di kawasan.
Meski demikian, transisi energi Asia Tenggara masih menghadapi tantangan besar karena dalam sepuluh tahun terakhir, bahan bakar fosil masih menyumbang sekitar 60% dari investasi energi kawasan. Batu bara bahkan menarik investasi sekitar US$110 miliar, terutama di Indonesia dan Vietnam.
Peran perusahaan energi nasional juga mulai berubah, dengan beberapa perusahaan minyak dan gas memperluas portofolio ke energi terbarukan.
Selain investasi domestik, pendanaan lintas negara juga menjadi pendorong penting, seperti investasi melalui Belt and Road Initiative dan Mekong-Lancang Cooperation Framework.
Menurut Virat, kolaborasi lintas negara akan menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan energi bersih di Asia Tenggara.
“Energi bersih membutuhkan skala, jaringan, dan kerja sama. Negara-negara ASEAN memiliki sumber daya yang berbeda, sehingga integrasi investasi dan infrastruktur dapat membantu kawasan ini membangun sistem energi yang lebih kuat dan kompetitif,” katanya.
Ke depan, kapasitas energi bersih Asia Tenggara diperkirakan bertambah lebih dari 43 GW antara 2025 dan 2030. Jika momentum ini terus dijaga, Asia Tenggara berpeluang menjadi salah satu pusat pertumbuhan energi bersih paling menarik di dunia.