AI Digadang-gadang Mampu Tekan Emisi Karbon, Benarkah?

Pusat data AI yang membutuhkan energi besar berpotensi meningkatkan emisi karbon di Indonesia. (Sumber Foto: NET)
Senin, 22 Juni 2026 | 09:50:11 WIB

JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini semakin meluas dan mulai diterapkan untuk mendukung mitigasi perubahan iklim. 

Berkat kemampuannya menganalisis data dalam skala masif, AI diklaim mampu meningkatkan efisiensi energi, mengoptimalkan sistem transportasi, hingga memantau kondisi lingkungan secara real time. Hal inilah yang membuat banyak pihak optimis bahwa AI dapat membantu menekan emisi karbon di masa mendatang.

Akan tetapi, penelitian dalam jurnal Communications Earth & Environment mengungkapkan bahwa realitanya tidak sesederhana itu. 

Di balik potensi positifnya, AI memerlukan konsumsi energi yang sangat besar untuk mengoperasikan pusat data (data center) sebagai infrastruktur utamanya. Tingginya kebutuhan energi ini berisiko meningkatkan emisi karbon jika sumber listrik masih berbasis pada bahan bakar fosil.

Dalam studi berjudul "Rapid Artificial Intelligence Deployment Increases Near-Term Pressure on Global Carbon Budgets", peneliti dari Kuwait University, Yassine Charabi, membangun model untuk memproyeksikan kebutuhan listrik dan emisi karbon akibat perkembangan AI di masa depan. Melalui sekitar 10.000 simulasi yang melibatkan variabel siklus perangkat keras, kebutuhan komputasi, dan sistem energi global, Yassine menemukan fenomena yang disebut sebagai "lembah karbon".

Istilah ini merujuk pada kondisi di mana emisi karbon dari pembangunan dan pengoperasian infrastruktur AI justru melampaui jumlah emisi yang berhasil dikurangi melalui penerapan AI itu sendiri. 

Singkatnya, pada fase awal pengembangannya, AI berpotensi meningkatkan emisi karbon ke atmosfer sebelum manfaat lingkungannya dapat dirasakan secara optimal.

Temuan tersebut menjadi catatan penting bagi Indonesia yang saat ini sedang gencar mengakselerasi transformasi digital di berbagai lini, mulai dari birokrasi, pendidikan, smart city, ketahanan pangan, hingga layanan kesehatan. 

Namun, peningkatan penggunaan AI juga memicu pembangunan pusat data yang haus listrik. Mengingat bauran energi Indonesia masih didominasi batu bara, kebutuhan listrik AI yang melonjak tanpa dibarengi energi terbarukan dapat meningkatkan emisi sektor digital.

Menurut Yassine, cara untuk memitigasi lembah karbon adalah dengan mempercepat penerapan AI pada sektor yang mendukung ekonomi rendah karbon. Jika adopsi tersebut tertunda, akumulasi emisi tambahan diprediksi mencapai sekitar 0,45 gigaton CO2 per tahun.

“Dalam skenario percepatan penyebaran pusat data AI yang dianalisis, pengurangan emisi tahunan memang dapat mengubah lintasan emisi di masa depan, tetapi tidak mampu menghapus tambahan emisi CO2 kumulatif yang telah terjadi sebelumnya,” ujar Yassine.

Hasil riset ini menegaskan bahwa pengembangan AI harus berjalan beriringan dengan transisi menuju energi bersih agar dampak positifnya terhadap iklim dapat tercapai.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo