Kapasitas Penyerapan Karbon Hutan Ternyata Lebih Minim dari Prediksi

Ilmuwan menemukan kapasitas penyerapan karbon hutan lebih rendah dari prediksi sebelumnya. (Sumber Foto: NET)
Rabu, 17 Juni 2026 | 09:20:09 WIB

JAKARTA - Hutan selama ini dipandang sebagai salah satu “perisai” utama bumi dalam menghadapi perubahan iklim. Namun, efektivitas hutan dalam menyerap karbon tidak hanya diukur dari total gas CO? yang diambil pohon, melainkan juga dari volume karbon yang tersimpan dalam biomassa kayu. 

Karbon yang terikat di kayu dapat bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun, berbeda dengan karbon yang digunakan untuk daun, akar, atau metabolisme lainnya yang tersimpan dalam durasi jauh lebih singkat.

Selama ini, ilmuwan iklim memproyeksikan bahwa tingginya konsentrasi CO? akibat bahan bakar fosil akan mendorong ekosistem darat untuk terus menyerap karbon di abad ke-21. 

Namun, mayoritas model saat ini masih mengandalkan laju fotosintesis sebagai tolok ukur utama kapasitas penyerapan, bukan laju pertumbuhan biomassa kayu yang sebenarnya.

Mukund Palat Rao, ilmuwan siklus karbon dari Lamont-Doherty Earth Observatory Universitas Columbia sekaligus penulis utama studi tersebut, menyatakan bahwa asumsi hubungan antara fotosintesis dan pertumbuhan tidak selalu akurat. 

Menurutnya, fotosintesis yang efisien tidak menjamin pohon akan tumbuh lebih cepat atau menyimpan lebih banyak karbon di masa depan.

“Sebagian besar model saat ini mengasumsikan fotosintesis terkait dengan pertumbuhan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hubungan ini tidak selalu ada,” ujar Rao.

Data di wilayah timur Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 36% karbon yang diserap pohon terjadi setelah fase pertumbuhan berhenti di akhir musim panas, sementara di California angka tersebut mencapai 26%. 

Pengukuran di empat lokasi penelitian mengungkap bahwa pembentukan kayu optimal pada cuaca sejuk dan lembap. Sayangnya, kondisi ini kian jarang ditemui akibat pemanasan global yang memicu peningkatan suhu dan kekeringan.

Rao menjelaskan bahwa saat cuaca panas dan kering, pertumbuhan pohon terhenti, namun proses fotosintesis tetap berlangsung meski melambat. Akibatnya, karbon yang diserap justru dialokasikan untuk aktivitas fisiologis lain, bukan dikonversi menjadi kayu.

Tim peneliti kini terus mengkaji apakah ketidakselarasan antara fotosintesis dan pertumbuhan kayu ini berlaku pula pada spesies dan wilayah lain. Temuan awal menegaskan bahwa daya simpan karbon hutan bergantung pada bagaimana pohon mendistribusikan karbon tersebut.

“Jika perubahan iklim terus memperburuk kekeringan dan suhu ekstrem, kapasitas penyimpanan karbon hutan dapat menurun. Ini berarti model iklim saat ini berisiko melebih-lebihkan peran hutan dalam menyerap gas rumah kaca dan memperlambat pemanasan global,” tutup para penulis.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo