Aset Migas Pertamina di Venezuela Resmi Berfungsi Penuh Kembali

Ilustrasi pekerja Pertamina internasional. (Sumber Foto: konteks.co.id)
Jumat, 12 Juni 2026 | 18:20:25 WIB

JAKARTA - Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno, menyatakan bahwa aset milik Pertamina di Venezuela telah diizinkan untuk kembali beroperasi secara penuh, yang mana hal ini menunjang langkah Indonesia dalam memaksimalkan sumber minyak alternatif di tengah situasi energi yang tidak menentu.

“Kami baru saja mendapatkan izin untuk melanjutkan operasi di Venezuela,” ucap Wamenlu Havas ditemui seusai rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (11/6).

Ia menegaskan bahwa pihak Indonesia saat ini tengah berusaha mencari sumber minyak baru dari berbagai negara lain di kawasan Amerika Selatan menyusul konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang terjadi di Selat Hormuz. “Kami sedang mencari lagi banyak negara di sana yang memiliki potensi migas. Hampir semua negara di Amerika Latin punya potensinya,” kata Wamenlu.

Mengingat besarnya potensi migas di Amerika Selatan, Indonesia melancarkan strategi untuk menjajaki peluang investasi di sektor tersebut pada negara-negara terkait. Havas menjelaskan bahwa proses negosiasi tengah dilangsungkan oleh pihak Pertamina bersama mitra di beberapa negara Amerika Selatan, meski perkembangannya masih berada dalam tahapan penjajakan. 

Segala kepentingan ekspansi migas ini dijalankan oleh Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), yang kini memegang kendali atas aset di Venezuela.

Lebih jauh, Havas menuturkan bahwa Indonesia turut memaksimalkan pencarian sumber minyak alternatif di beberapa negara kawasan Afrika, seperti Aljazair, Nigeria, serta Angola. Taktik ini diterapkan untuk mengamankan pasokan minyak dari daerah-daerah yang jalurnya tidak harus melalui Selat Hormuz yang tengah diblokade.

PIEP memegang kepemilikan saham sebesar 71,09 persen di Maurel & Prom (M&P), perusahaan migas Prancis yang memiliki aset di Venezuela. 

Pihak PIEP mengklarifikasi bahwa aset minyak yang mereka kelola di Venezuela tidak mengalami dampak negatif pascaserangan Amerika Serikat ke negara itu pada Januari lalu. Perusahaan terus memantau situasi dengan teliti dan menjaga koordinasi intensif bersama KBRI Caracas sebagai bentuk kewaspadaan.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo