Taktik Licik Netanyahu Tarik Trump ke Perang AS-Iran Jilid 2
JAKARTA - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berupaya menarik Presiden Donald Trump ke dalam perang Amerika Serikat (AS) dan Iran jilid II. Upaya ini terpantau sejak Minggu pagi, saat Israel melancarkan serangan terhadap sasaran Hizbullah di Beirut.
Sebagaimana dimuat laman AS Axios, sumber Israel menyebutkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel memberi tahu Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) sesaat sebelum serangan di Beirut, Lebanon dimulai. Hal ini merupakan garis merah bagi Iran, di mana keamanan sekutunya dianggap sebagai sesuatu yang mutlak.
"Seorang pejabat AS mengatakan Trump- yang menghentikan rencana serangan Israel serupa dalam percakapan telepon yang menegangkan beberapa hari sebelumnya- tidak senang dengan serangan tersebut," muat laman itu dikutip Selasa (9/6/2026).
"Iran kemudian meluncurkan rudal ke arah Israel, seperti yang telah mereka janjikan jika Israel menyerang ibu kota Lebanon. (Tapi sebelumnya) beberapa orang di IDF (militer Israel) percaya bahwa itu hanyalah ancaman kosong," tambahnya.
Sebenarnya, dilaporkan bahwa Trump sempat menelepon Netanyahu pada Minggu malam. Ia meminta Netanyahu untuk tidak membalas serangan Iran dengan serangan balasan Israel ke Lebanon.
Trump berargumen bahwa ia akan membuat kesepakatan dengan Iran dalam beberapa hari ke depan, sehingga serangan balasan Israel dianggap tidak diperlukan atau justru membahayakan proses kesepakatan tersebut.
Memang tidak tampak emosi sebesar kemarahan Trump sebelumnya. Pekan lalu, Trump disebut marah kepada Netanyahu dan menyebutnya "gila dan tak tahu terima kasih" karena eskalasi Israel ke Lebanon yang mengganggu negosiasi damai dengan Iran.
Namun, sumber Israel mengatakan Netanyahu berpendapat bahwa tidak menanggapi serangan Iran akan berdampak buruk bagi Israel, buruk bagi AS, dan buruk bagi kesepakatan yang sedang dinegosiasikan oleh Trump. Argumennya, ketiadaan tindakan akan memberi kesan bahwa Iran lebih unggul dan mampu menghalangi AS serta Israel untuk mengambil langkah militer.
"Percakapan berakhir tanpa keputusan jelas dari Netanyahu. Beberapa pejabat AS yang menerima telepon tersebut merasa bahwa presiden telah berhasil mengulur lebih banyak waktu," tulis Axios.
"Netanyahu, di sisi lain, merasa bahwa meskipun Trump menentang serangan balasan, tindakannya bukanlah sebuah pernyataan tegas 'jangan'," muatnya lagi merujuk sumber Israel.
"Bibi tidak mungkin menafsirkan apa yang dikatakan presiden (Trump) kepadanya sebagai sebuah perjanjian. Dia secara tegas diberitahu bahwa presiden tidak mendukungnya, namun dia melakukan apa yang dia lakukan," kata seorang pejabat AS dikutip laman itu lagi.
Usai pembicaraan telepon dengan Trump, Netanyahu bertemu dengan kepala keamanan dan komandan IDF. Ia kemudian memberi tahu Gedung Putih bahwa dirinya memutuskan untuk melanjutkan serangan.
Trump menyebut bahwa Israel "sangat terlambat memberi kami pemberitahuan" tentang serangan hari Minggu. "Mereka sudah dalam perjalanan. Namun pada akhirnya saya membatasi (serangan Israel)," kata Trump dalam sebuah wawancara.
Kendati demikian, seorang pejabat Israel mengatakan Netanyahu dan pejabat lainnya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada Minggu malam, di mana keduanya telah "mencapai kesepahaman mengenai target yang akan diserang".
Sementara itu, usai serangan Netanyahu ke Iran, dilaporkan bahwa Teheran kembali melakukan balasan. Rentetan rudal juga ditembakkan oleh sekutu pemerintah Iran, kelompok Houthi di Yaman, pada Senin. Situasi ini membuat lima negara dari kawasan berbeda menelepon Trump untuk memintanya menekan Netanyahu.
"Negara-negara ini sangat prihatin. Mereka menyukai kesepakatan yang telah kami negosiasikan," kata Trump.
Trump juga mengklaim pemerintahannya menerima pesan dari Iran pada Senin pagi yang menyatakan kesediaan untuk menghentikan penembakan, dengan syarat Israel melakukan hal yang sama.
"Mereka menelepon kami dan mengatakan bahwa mereka tidak melakukan serangan lagi dan meminta kami memberitahu Israel untuk tidak melakukan serangan lagi," kata Trump.
Sebenarnya, Israel tengah mempersiapkan gelombang serangan terbesar terhadap Iran sejak April, dengan puluhan sasaran sensitif, menurut dua pejabat Israel. Namun, Trump menelepon Netanyahu dan memintanya untuk menghentikan serangan tersebut. "Saya berkata, 'Bibi, sebaiknya kamu berhati-hati, atau kamu akan segera sendirian,'" kata Trump kepada Axios.
Sumber Israel mengatakan ada perbedaan pendapat mengenai seruan tersebut, namun berakhir dengan Netanyahu setuju untuk mundur jika Iran tidak menyerang. Setelah panggilan telepon itu, Netanyahu meminta komandan senior militernya untuk membatalkan serangan tersebut.