Strategi Diplomasi Energi Indonesia dalam Percepatan Energi Terbarukan
LOMBOK - Bumi yang kami tempati saat ini diperkirakan telah berumur 4,54 miliar tahun. Waktu yang sangat fantastis lama dengan berbagai liku-liku iklim yang dihadapinya.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang tiada henti menciptakan pertumbuhan industri yang begitu cepat, terutama untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, perkembangan tersebut juga mendatangkan konsekuensi pemanasan global yang berdampak pula pada perubahan iklim.
Bahan utama dari laju perkembangan teknologi ini adalah energi, yaitu kemampuan suatu benda atau sistem untuk melakukan sesuatu. Energi kemudian menjadi aspek yang sangat strategis di masa kini.
Latar belakang kerentanan iklim ini kemudian memicu kesadaran banyak negara di dunia mengenai risiko tersebut, sehingga melandasi pembentukan forum-forum multilateral di bidang energi.
Banyak forum ataupun perjanjian internasional yang dibuat dalam rangka mengembangkan energi terbarukan dan energi hijau yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu bentuk forum tersebut yakni South-South and Triangular Cooperation on Renewable Energy (SSTC RE). Belum lama ini forum tersebut melaksanakan pertemuan di Lombok pada 19-23 Mei 2026 yang mempertemukan Indonesia, Kenya, Madagaskar, Nepal, serta Jerman.
Keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut menggambarkan diplomasi energi Indonesia yang terus aktif dalam mendukung energi terbarukan.
Diplomasi energi sendiri bisa kami artikan sebagai pemanfaatan kebijakan luar negeri dan instrumen geopolitik oleh suatu negara untuk mengamankan pasokan energi, menarik investasi, melakukan alih teknologi, serta mempercepat transisi menuju energi bersih.
Melalui Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, Indonesia menyampaikan komitmennya dalam rangka mengembangkan potensi energi terbarukan. Eniya Listiani Dewi menyatakan, "Indonesia memandang transisi energi bukan hanya sebagai agenda lingkungan, tetapi juga jalur strategis untuk memperkuat ketahanan energi, ketahanan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kolaborasi internasional menjadi sangat penting untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan yang inklusif dan berkelanjutan," Rabu (23/05).
Dari sudut pandang diplomasi energi, langkah Indonesia untuk aktif bahkan menjadi tuan rumah dari pertemuan SSTC RE kemarin merupakan langkah konkret geopolitik Indonesia untuk bisa membangun citra dan kemitraan yang baik sehingga dapat memberikan dampak positif pada ketahanan energi di Indonesia.
Hal ini tentunya dapat dilihat dengan jelas dari fokus utama diadakannya forum tersebut, yakni memperkuat kerja sama negara berkembang dalam pengembangan energi terbarukan dan percepatan transisi energi.
Dalam pelaksanaan forum SSTC RE di Lombok kemarin, terdapat beberapa output yang dapat diidentifikasi. Beberapa output yang terhighlight yakni, adanya rencana penguatan kerja sama teknis antarnegara berkembang melalui transfer pengetahuan mengenai pengembangan energi terbarukan, juga peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan pertukaran pengalaman.