Gubernur NTB dan IESR Bahas Percepatan Transisi Menuju NZE 2050

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menerima audiensi CEO IESR Fabby Tumiwa membahas percepatan transisi energi bersih. (Sumber Foto: NET)
Jumat, 05 Juni 2026 | 15:38:58 WIB

NUSA TENGGARA BARAT - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memantapkan langkah dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2050. 

Komitmen tersebut dipertegas saat Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menerima audiensi Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, beserta jajarannya di ruang kerja Gubernur, Rabu (3/6/26).

Dalam pertemuan itu, Gubernur Iqbal menyambut baik dukungan IESR untuk menyusun peta jalan menuju NZE 2050. Menurutnya, NTB memerlukan arah pembangunan yang terukur agar transisi energi berjalan efektif sekaligus berdampak positif bagi ekonomi masyarakat.

“IESR dapat memberikan masukan strategis untuk mengarusutamakan energi terbarukan. Dalam masa transisi energi seperti saat ini, inisiatif NZE juga perlu mendapat dukungan kuat dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Iqbal menekankan bahwa potensi energi terbarukan yang melimpah di NTB menjadi modal utama dalam mendorong transformasi ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Fabby Tumiwa menjelaskan bahwa IESR berkomitmen mendampingi Pemprov NTB dalam mencapai target NZE 2050, mulai dari pengembangan ekosistem transisi energi, perumusan kebijakan, hingga mendorong investasi energi terbarukan. 

Fabby menyebutkan bahwa wilayah lain seperti Bali dan Nusa Tenggara Timur telah lebih dulu melakukan langkah serupa dengan dukungan IESR.

Sebagai langkah awal, IESR telah menerbitkan kajian mengenai pulau berbasis 100 persen energi terbarukan. Hasilnya, Pulau Sumbawa dinilai mampu memenuhi kebutuhan listrik melalui tenaga surya dengan potensi mencapai 8,64 gigawatt (GW). 

Selain itu, pengalaman IESR dalam menyusun peta jalan emisi nol bersih untuk sektor ketenagalistrikan di Bali diharapkan menjadi referensi penting bagi NTB.

“Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pembangunan 100 GW energi surya di sekitar 80 ribu desa. Kami melihat ini sebagai momentum bagi daerah untuk berkontribusi dalam pencapaian target nasional,” kata Fabby.

Direktur Eksekutif ViriyaENB, Suzanty Sitorus, turut mendorong NTB untuk meningkatkan kapasitas SDM di sektor energi terbarukan agar mampu menjadi pusat tenaga kerja energi bersih di Indonesia Timur. 

Gubernur Iqbal menanggapi positif peluang tersebut dan menyatakan bahwa SDM NTB memiliki daya saing tinggi, terutama dengan kemampuan bahasa yang mumpuni.

“Banyak tenaga kerja NTB memiliki kemampuan berbahasa Arab. Yang perlu diperkuat adalah pendidikan teknis, pusat pelatihan, dan dukungan sertifikasi agar mampu bersaing di sektor energi terbarukan,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepahaman untuk menjajaki kerja sama strategis dalam penyusunan peta jalan NZE NTB serta pengembangan kebijakan rendah emisi. 

Ruang lingkup kerja sama mencakup pengembangan kawasan rendah emisi, kendaraan listrik, transportasi publik, energi terbarukan, peningkatan SDM, hingga kawasan industri berkelanjutan. 

Kolaborasi ini diharapkan mempercepat transformasi energi bersih di NTB sekaligus mengukuhkan posisi daerah sebagai pusat pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo