Porsi EBT Capai 17,89%, Pembangkit Fosil Masih Kuasai Sistem RI
JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total kapasitas pembangkit listrik nasional menembus 108 gigawatt (GW) per April 2026. Meski begitu, mayoritas kapasitas tersebut masih ditopang oleh pembangkit berbasis energi fosil.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyebutkan kapasitas pembangkit di wilayah usaha PT PLN (Persero) mencapai 79,05 GW atau sekitar 73% dari total kapasitas nasional.
Dari angka itu, pembangkit milik PLN dan grup menyumbang 48,79 GW atau 45% dari total kapasitas nasional.
Sementara itu, pembangkit milik Independent Power Producer (IPP) sebesar 29,27 GW atau 27%, pembangkit sewa sekitar 1%, serta pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Sendiri (IUPTLS) yang terhubung ke jaringan PLN sebesar 0,14 GW.
Tri memaparkan, dari total kapasitas 108 GW, sebanyak 91,58 GW atau 85% masih menggunakan energi fosil.
"Kalau kami lihat dari jenis energi yang digunakan, pembangkit masih menggunakan energi fosil sebesar 91,58 GW atau 85%," ucap Tri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (4/6/2026).
Secara terperinci, kapasitas pembangkit berbahan bakar batu bara mencapai 60,53 GW atau 56% dari total nasional. Disusul pembangkit gas sebesar 24,72 GW atau 23%, tenaga air 7,6 GW atau 7%, serta BBM sebesar 6 GW atau 6%.
Adapun kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) lainnya terdiri dari tenaga surya sebesar 1,62 GW atau 2%, panas bumi 2,75 GW atau 3%, dan biomassa 3,67 GW atau 3%.
Meski demikian, Tri menyebut bauran EBT berdasarkan kapasitas pembangkit telah menyentuh angka 17,89% per April 2026. Capaian ini melampaui target tahunan yang ditetapkan sebesar 16,46%.
"Porsi ini tentu cukup menggembirakan dan menunjukkan kinerja yang cukup positif dari energi baru terbarukan," ucap Tri.
Kendati demikian, dia mengakui batu bara masih menjadi sumber energi utama dalam sistem ketenagalistrikan nasional berdasarkan perbandingan target dan realisasi bauran energi periode 2025–2026.
Adapun produksi listrik nasional yang berasal dari PLN, IPP, wilayah usaha lain, dan IUPTLS mencapai 165,51 terawatt hour (TWh) hingga April 2026. Produksi tersebut terdiri atas PLN sebesar 61,79 TWh, IPP 55,03 TWh, IUPTLS 40,29 TWh, serta wilayah usaha lain sebesar 8,4 TWh.