Dukung Pertanian Berkelanjutan, PKS Sei Tapung Ubah Limbah Jadi Pupuk

PKS Sei Tapung manfaatkan limbah tandan kosong menjadi pupuk organik untuk mendukung pertanian berkelanjutan. (Sumber Foto: NET)
Jumat, 05 Juni 2026 | 12:49:54 WIB

PEKANBARU - Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Tapung PTPN IV Regional III terus mengoptimalkan pemanfaatan limbah hasil pengolahan kelapa sawit secara komprehensif sebagai wujud implementasi prinsip ekonomi sirkular dan praktik industri berkelanjutan. 

Langkah ini mencakup pemanfaatan tandan kosong sebagai pupuk organik guna mendukung produktivitas perkebunan, hingga pengolahan menjadi sumber energi terbarukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Untuk pemanfaatan tandan kosong (tankos), Pj Manajer PKS Sei Tapung, Devario Ibnurusd S., menyatakan inisiatif tersebut merupakan komitmen perusahaan dalam mendukung praktik budidaya perkebunan ramah lingkungan sekaligus mengoptimalkan nilai tambah limbah sawit. 

Menurutnya, tankos mengandung bahan organik yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur lahan, serta menjaga ketersediaan unsur hara secara alami.

“Pemanfaatan tankos sebagai pupuk organik merupakan salah satu bentuk dukungan manajemen terhadap praktik budidaya sawit yang lebih lestari dan ramah lingkungan. Selain membantu petani, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan seluruh produk samping agar memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Devario.

Ia menjelaskan, selama ini PKS Sei Tapung secara rutin menyalurkan tankos kepada petani di sekitar wilayah operasional secara cuma-cuma sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial. Penyaluran diberikan berdasarkan permohonan tertulis dari kelompok atau petani dengan mempertimbangkan ketersediaan di pabrik.

“Tidak ada praktik jual beli tankos kepada masyarakat. Penyaluran dilakukan secara cuma-cuma sebagai bentuk dukungan perusahaan terhadap petani dan pemanfaatan bahan organik secara berkelanjutan,” ujarnya.

Namun, Devario mengungkapkan bahwa selama lebih dari satu bulan terakhir, penyaluran tankos dihentikan sementara karena diprioritaskan untuk kebutuhan internal. “Sudah lebih dari satu bulan tidak ada penyaluran tankos ke masyarakat karena sesuai arahan manajemen, tankos dan by product lainnya seperti abu janjang saat ini difokuskan untuk mendukung kebutuhan kebun inti,” paparnya.

Meski demikian, PKS Sei Tapung menegaskan komitmen untuk terus menjalankan praktik perkebunan berkelanjutan serta menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat. 

Para petani pun mengakui inisiatif ini sangat membantu, terutama di tengah kenaikan harga pupuk. Idang, seorang petani setempat, menuturkan bahwa program penyaluran tankos membantu menekan biaya pemupukan dan meningkatkan produktivitas kebun.

Lebih lanjut, Devario menuturkan bahwa pengelolaan limbah di PKS Sei Tapung juga mencakup instalasi Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Co-firing yang memanfaatkan limbah cair (POME) sejak 2023. Fasilitas dengan teknologi CIGAR ini memiliki kapasitas 20.000 meter kubik untuk menangkap gas metana.

“Prinsip yang kami jalankan adalah bagaimana seluruh produk samping hasil pengolahan sawit dapat dimanfaatkan secara optimal. Tankos dan abu janjang dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan lahan, sementara limbah cair kami olah menjadi energi terbarukan melalui fasilitas biogas. 

Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan perusahaan tetapi juga lingkungan dan masyarakat,” jelasnya.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo