Realisasikan NZE 2050, NTB dan IESR Bahas Strategi Transisi Energi
MATARAM – Nusa Tenggara Barat (NTB) berkomitmen mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2050. Beberapa daerah lain juga telah mendeklarasikan target serupa, seperti Bali yang menargetkan NZE pada 2045 dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2050.
Sebagai lembaga pemikir yang mendorong percepatan transisi energi, Institute for Essential Services Reform (IESR) mendukung upaya pencapaian NZE melalui pendampingan teknis dan penyusunan strategi transisi energi. IESR bertemu dengan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, di Kantor Gubernur NTB pada Selasa (3/6/2026).
Fabby Tumiwa, CEO IESR, menjelaskan bahwa lembaganya siap mendukung Pemerintah Provinsi NTB dalam pencapaian NZE 2050, antara lain melalui pengembangan ekosistem pendukung transisi energi dan mendorong investasi energi terbarukan.
Sebagai langkah awal, IESR telah menerbitkan kajian Pulau Berbasis 100% Energi Terbarukan dan Fleksibilitas pada Sistem Tenaga Listrik. Kajian tersebut menunjukkan bahwa Pulau Sumbawa berpotensi memenuhi kebutuhan listriknya dari energi terbarukan, terutama energi surya dengan potensi mencapai 8,64 GW.
“Presiden Prabowo juga telah menginstruksikan pembangunan 100 GW energi surya di sekitar 80 ribu desa. Kami melihat ini sebagai momentum bagi daerah untuk berkontribusi dalam pencapaian target nasional tersebut,” ujar Fabby.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyambut baik dukungan IESR. Menurutnya, NTB memerlukan peta jalan menuju NZE 2050 yang memberikan arah pembangunan jelas dan terukur. Ia menegaskan NTB memiliki potensi energi terbarukan besar untuk mendukung transformasi ekonomi daerah.
“IESR dapat memberikan masukan strategis untuk mengarusutamakan energi terbarukan. Dalam masa transisi energi seperti saat ini, inisiatif NZE juga perlu mendapat dukungan kuat dari pemerintah pusat,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Direktur Eksekutif ViriyaENB, Suzanty Sitorus, juga mendukung pengembangan kapasitas SDM di bidang energi terbarukan agar NTB menjadi pusat pengembangan tenaga kerja energi terbarukan di Indonesia Timur.
Gubernur NTB menyampaikan bahwa SDM NTB memiliki potensi besar, termasuk untuk pasar Timur Tengah, namun memerlukan pendidikan teknis dan sertifikasi yang memadai.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepahaman untuk menjajaki kerja sama dalam pemutakhiran Rencana Umum Energi Daerah (RUED) guna mendukung ambisi NZE 2050 dan pengembangan kebijakan rendah emisi.