Subsidi Mobil Listrik Bakal Diklasifikasi Berdasarkan Teknologi Baterai

Ilustrasi baterai kendaraan listrik. (Sumber Foto: kumparan.com)
Rabu, 03 Juni 2026 | 15:29:50 WIB

JAKARTA - Pemerintah Indonesia berencana untuk memperluas cakupan insentif bagi kendaraan listrik di masa mendatang. Namun, kali ini, kebijakan pemberian subsidi akan mengadopsi pendekatan yang lebih terpilah, dengan membedakan besaran insentif berdasarkan teknologi baterai yang digunakan. 

Secara spesifik, kendaraan listrik yang mengandalkan baterai berbasis nikel diproyeksikan akan menerima porsi insentif yang lebih besar dibandingkan dengan teknologi baterai lainnya. 

Menteri Keuangan, Purbaya, menekankan bahwa penyesuaian skema insentif ini dirancang secara khusus untuk kendaraan listrik murni, dan tidak akan mencakup kendaraan hibrida.

Salah satu instrumen utama yang akan dimanfaatkan untuk mendorong adopsi kendaraan listrik adalah Pajak Pertambahan Nilai yang ditanggung oleh pemerintah. Saat ini, pemerintah sedang melakukan kajian mendalam untuk merumuskan skema yang paling efektif dan efisien dalam penerapannya.

Lebih lanjut, Purbaya menguraikan bahwa mekanisme pemberian subsidi akan bervariasi tergantung pada jenis teknologi baterai yang disematkan pada kendaraan. Purbaya menegaskan bahwa fokus utama kebijakan ini adalah pada kendaraan listrik murni, bukan kendaraan hibrida. Perbedaan skema insentif akan diterapkan untuk baterai berbasis nikel dan non-nikel. Detail lebih lanjut mengenai implementasinya akan disampaikan oleh Menteri Perindustrian.

Keputusan untuk mengalokasikan subsidi yang lebih besar bagi kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk mendorong hilirisasi industri nasional. 

Dengan kekayaan cadangan nikel yang melimpah, Indonesia berambisi untuk memaksimalkan nilai tambah dari sumber daya alam tersebut di dalam negeri.

"Alasan saya memberikan subsidi yang lebih besar untuk nikel adalah agar baterai kami termanfaatkan," ujar Purbaya.

Menanggapi rencana pemerintah tersebut, PT BYD Motor Indonesia, sebagai salah satu pemain kunci dalam industri mobil listrik di Indonesia yang menggunakan baterai berteknologi LFP produksi mandiri, memberikan pandangannya. 

Luther Panjaitan, Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, menyatakan bahwa, terlepas dari perbedaan jenis baterai, pada hakikatnya semua teknologi baterai memiliki tujuan yang sama.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo