Energi Bersih Merupakan Energi Paling Selamat bagi Manusia

Sumber Energi yang Paling Aman bagi Lingkungan adalah Matahari. (Sumber Foto: Liputan6.com)
Senin, 25 Mei 2026 | 11:57:30 WIB

JAKARTA – Selama bertahun-tahun, batu bara, minyak, dan gas dianggap sebagai fondasi utama pembangunan. 

Lampu menyala, pabrik beroperasi, dan ekonomi pun tumbuh. Namun, di balik listrik yang menghidupkan kota-kota, terdapat ongkos yang jarang dihitung secara terbuka, yakni kematian.

Peneliti dari Oxford Martin Programme on Global Development, Hannah Ritchie, menyebutkan bahwa energi memang menjadi penggerak kemajuan manusia dalam beberapa abad terakhir. 

Akan tetapi, sumber energi tersebut juga meninggalkan jejak berupa polusi udara, kecelakaan industri, hingga emisi gas rumah kaca yang mempercepat krisis iklim.

“Energi berada di pusat hampir setiap tantangan besar dan peluang yang dihadapi dunia saat ini,” tulis Perserikatan Bangsa-Bangsa, dikutip dalam riset Hannah Ritchie di laman Our World in Data, Minggu, 24 Mei 2026.

Masalahnya, tidak semua jenis energi memberikan dampak yang sama. Ritchie menemukan bahwa sumber energi berbasis fosil justru menjadi penyumbang angka kematian tertinggi di dunia. 

Hal ini terjadi bukan hanya karena kecelakaan tambang atau ledakan fasilitas energi, tetapi terutama akibat polusi udara yang dihirup manusia setiap hari. 

Jutaan orang, menurut riset tersebut, meninggal lebih dini setiap tahun akibat paparan polusi udara yang sebagian besar berasal dari pembakaran batu bara, minyak, gas, serta biomassa seperti kayu dan arang.

“Batu bara adalah sumber energi yang paling kotor, jauh di atas yang lain,” tulis Ritchie.

Riset Oxford tersebut membandingkan jumlah kematian berdasarkan setiap unit listrik yang dihasilkan. Hasilnya mencolok; batu bara menjadi sumber energi paling mematikan, disusul oleh minyak dan gas. 

Sebaliknya, energi nuklir, angin, serta tenaga surya berada di kelompok dengan tingkat kematian paling rendah. Jika sebuah kota berpenduduk 150 ribu orang sepenuhnya bergantung pada batu bara, diperkirakan setidaknya 25 orang meninggal lebih cepat setiap tahun akibat dampaknya.

Meskipun nuklir sering dipandang menakutkan karena tragedi seperti Chernobyl dan Fukushima, Ritchie menilai gambaran tersebut tidak sesuai data. “Peristiwa itu tragis. 

Namun dibanding jutaan orang yang meninggal setiap tahun akibat bahan bakar fosil, jumlah akhirnya sangat rendah,” tulisnya. 

Bahkan, energi nuklir menghasilkan sekitar 99,8 persen lebih sedikit kematian dibandingkan batu bara, dengan tingkat keselamatan yang hampir setara dengan tenaga surya dan angin.

Temuan menarik lainnya adalah tidak adanya pertentangan antara energi aman dan energi ramah iklim. 

Transisi energi sering dianggap sebagai pengorbanan ekonomi, padahal sumber energi rendah karbon justru paling aman bagi manusia. “Beruntungnya, tidak ada pertukaran antara energi yang paling aman dan energi yang paling bersih. Keduanya adalah hal yang sama,” tulis Ritchie.

Meski data menunjukkan fosil lebih berbahaya, dunia masih menggantungkan aktivitas ekonominya pada sumber energi yang menopang pembangunan sekaligus meningkatkan angka kematian. Ritchie melihat ini sebagai peluang sekaligus tantangan. 

“Jika kami ingin menghentikan perubahan iklim, kami memiliki kesempatan besar di depan mata. Kami bisa beralih dari bahan bakar fosil menuju nuklir dan energi terbarukan sekaligus mengurangi kematian akibat kecelakaan dan polusi udara,” tulisnya. 

Pergeseran ke energi rendah karbon bukan hanya untuk menyelamatkan bumi di masa depan, tetapi juga menekan angka kematian saat ini.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo