JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprioritaskan aspek keselamatan dalam rencana penerapan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai energi alternatif untuk menggantikan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (kg).
Hal tersebut dilakukan guna menjamin bahwa infrastruktur penggunaan gas bumi domestik memiliki standar keamanan tinggi pada tingkat konsumen akhir.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman memaparkan mekanisme teknis mengenai keamanan gas bumi yang dimampatkan tersebut.
Ia menegaskan bahwa faktor utama pemanfaatan CNG terletak pada kekuatan tabung serta katup (valve) yang didesain khusus untuk menahan tekanan tinggi.
"Faktor yang paling nomor satu itu dulu. Kuncinya kalau CNG ini adalah bagaimana menyiapkan tabung dan valve-nya ini benar-benar kuat aman itu kuncinya ada di situ," ujarnya dalam Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Selasa (19/5/2026).
Laode mengungkapkan bahwa walaupun CNG mempunyai tekanan jauh lebih tinggi ketimbang LPG, yakni mencapai 200 hingga 250 bar, potensi kebakarannya justru tergolong lebih rendah.
Hal ini terjadi karena sifat fisik gas yang andal dalam menghalau oksigen ketika terjadi kebocoran di ruang terbuka, sehingga api menjadi sulit terbentuk.
"CNG kalau dia kebocorannya dalam tekanan yang besar itu, itu tiupan tekanannya lebih besar daripada daya oksigen itu berada diam di ruangan. Jadi dia kalau niup itu nggak akan ada apa-apa, tiup aja asal ruangan terbuka karena kuat tiupannya, tiupannya oksigen pun nggak akan bisa bereaksi di situ," paparnya.
Menurutnya, berdasarkan teori "segitiga api", kebakaran baru bisa terjadi apabila ada unsur bahan bakar, pemantik api, dan oksigen.
Melalui tekanan tiupan gas yang sangat masif, gas bumi dapat mencegah oksigen masuk ke area kebocoran sehingga syarat untuk terjadinya kebakaran spontan tidak terpenuhi.
"Jadi kecuali kalau tekanannya lebih rendah diturunin baru muncul api sedikit tapi itu pun cukup ditutup aja sedikit udah ketutup dia. Jadi kami sebenarnya stigmata ini nih terlalu di apa memberatkan kami," tambahnya.
Pemerintah pun menetapkan penggunaan tabung Tipe 4 berbahan komposit fiber yang diklaim jauh lebih kokoh namun tetap ringan guna menjamin keselamatan operasional bagi para pengguna rumah tangga.
Pemanfaatan material tersebut dinilai menjadi solusi tepat untuk menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap faktor keselamatan gas bertekanan tinggi ini.
"Di setiap kami melakukan proses konversi diperlukan proses sosialisasi dulu. Nah sekarang kan dua nih tekanannya selain sosialisasi harus aman, sedikit ada sesuatu huh langsung meledak. Nah ini yang mungkin bagi kami di Ditjen Migas harus menyiapkan mekanisme ini sebaik mungkin," tandasnya.