JAKARTA - Negara luar mulai melirik teknologi asal Indonesia untuk keperluan pengembangan energi terbarukan. Salah satu buktinya, Bangladesh mulai menaruh ketertarikan pada rekam jejak Indonesia dalam urusan pengembangan energi surya serta energi terbarukan.
Hal tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Pertamina NRE dan Copenhagen Urban Solar Parks BD Ltd guna mendalami kemitraan pengembangan energi terbarukan di Bangladesh.
Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan pembangkit listrik tenaga surya atau solar PV hingga kans kerja sama operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance/O&M).
Kerja sama ini menjadi langkah awal bagi kedua korporasi dalam mengkaji peluang investasi serta pengembangan proyek energi bersih di Bangladesh, sejalan dengan percepatan transisi energi global dan penguatan kolaborasi regional di sektor energi berkelanjutan. Kemitraan tersebut juga dinilai membuktikan kepercayaan Bangladesh pada pengalaman Indonesia dalam pengerjaan proyek energi baru dan terbarukan, khususnya energi surya berkapasitas besar.
Dalam kerja sama itu, kedua pihak akan melangsungkan studi kelayakan yang mencakup faktor teknis, pasar, bisnis, lingkungan, hukum hingga risiko proyek. Di samping itu, kedua perusahaan juga akan menelusuri kerja sama strategis, teknis, serta komersial, termasuk berbagi ilmu dan implementasi teknologi energi terbarukan.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menyampaikan bahwa kemitraan ini menjadi langkah strategis untuk memperluas ekspansi pengembangan energi hijau di kancah internasional.
"Di tengah situasi global yang penuh dengan ketidakpastian, kolaborasi ini menjadi momentum penting dan langkah strategis bagi pengembangan bisnis energi terbarukan di Indonesia sekaligus mendukung kebutuhan energi bersih yang berkelanjutan di Bangladesh," ujar John Anis di Jakarta, Senin (18/5/2026).
John mengimbuhkan, penjajakan kemitraan di Bangladesh berpotensi memperkuat portofolio internasional perusahaan yang sebelumnya telah berjalan di Filipina.
"Saat ini Pertamina NRE telah memiliki kapasitas instalasi terpasang lebih dari 1 GWp di Filipina dan terus berkembang dengan target mencapai 2,6 GWp pada akhir tahun ini. Pencapaian konkret tersebut menjadi modal penting bagi Pertamina NRE untuk mengembangkan proyek serupa di Bangladesh," tambahnya.
Sementara itu, Chairman CUSP Ziaur Rahman menyambut positif kolaborasi tersebut sebagai langkah strategis untuk menghadirkan jalan keluar energi bersih di Bangladesh.
"Kami menyambut baik kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk menghadirkan solusi energi bersih yang inovatif, efisien, dan berdampak positif bagi pembangunan berkelanjutan di Bangladesh," kata Ziaur Rahman.
Lewat kemitraan ini, kedua perusahaan berharap dapat mendukung akselerasi transisi energi global dan target Net Zero Emission Indonesia 2060, sekaligus memperkokoh investasi hijau serta pengembangan teknologi energi bersih di kedua negara.