JAKARTA - Baterai ion natrium selama ini sekadar menjadi objek riset serta cuma dijumpai di dalam laboratorium.
Akan tetapi, komersialisasi komponen jenis tersebut rupanya berlangsung kian cepat dan kini telah resmi berjalan. Berdasarkan lansiran dari ArenaEV, sebuah korporasi baterai bernama Pret menyatakan bahwa pembuatan secara massal untuk pelbagai varian ion natrium miliknya telah dilakukan.
Saat ini, baterai ion natrium dimanfaatkan bagi penyimpanan energi, daya cadangan, sistem start-stop mobil, hingga kendaraan khusus. Kendati demikian, berhubung permintaan kian melonjak, perusahaan tersebut bahkan menanamkan investasi pada jalur manufaktur lain berkapasitas 2 GWh. Fasilitas produksi anyar mereka bakal mulai beroperasi menjelang penutupan tahun ini.
Di sisi lain, CATL pun sudah menyepakati kontrak pasokan berdurasi tiga tahun bersama HyperStrong. Kesepakatan tersebut mencakup pengadaan baterai ion natrium sebesar 60 GWh. Bukan hanya itu, Fuding Times yang merupakan anak usaha CATL telah mempublikasikan proyek ekspansi baterai baru dengan investasi menyentuh US$ 735 juta guna menambah kapasitas total sebesar 40 GWh lagi.
Dalam fase sekarang, performa baterai ion natrium memang belum sanggup menandingi baterai lithium iron phosphate (LFP) dalam hal kinerja, tetapi ongkos produksinya jauh lebih ekonomis. Hal yang jauh lebih krusial, zat baku yang diperlukan dalam pembuatannya lebih gampang diperoleh ketimbang litium, serta tidak rawan terhadap fluktuasi yang tinggi.
Oleh karena itu, sel ion natrium menjadi opsi paling ideal bagi kendaraan setrum berukuran lebih mini serta ramah di kantong. Bila harga bahan mentah dapat diproyeksikan, perkara ini bakal memudahkan korporasi dalam menyusun rencana sekaligus mengefisiensikan anggaran produksi mobil kompak yang ekonomis.
Baterai LFP sendiri dipastikan tetap menjadi pilar utama untuk kendaraan premium serta berdimensi besar berkat kepadatan energinya yang jauh lebih unggul. Meski demikian, para pengamat meyakini bahwa baterai ion natrium bakal merombak pasar kendaraan listrik kelas murah. Komponen ini akan mewujudkan ongkos baterai yang lebih terjangkau sekaligus stabil, memastikan kelenturan harga yang lebih baik, serta membuka jalan bagi perolehan laba yang lebih tinggi pada segmen tersebut.