Model Transisi Energi, DEN Sanjung Kawasan Hybrid Cirata Jawa Barat

Jumat, 15 Mei 2026 | 16:19:23 WIB
Ilustrasi energi bersih indonesia. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Dewan Energi Nasional (DEN) memandang bahwa pengembangan area pembangkit hybrid di Cirata, Jawa Barat, menjadi salah satu percontohan penting bagi proses transisi energi bersih di dalam negeri. 

Integrasi antara PLTA Cirata dan PLTS Terapung Cirata dinilai mampu memperkuat sistem ketenagalistrikan nasional yang berbasis energi baru terbarukan (EBT).

Kawasan pembangkit yang dioperasikan oleh PLN Nusantara Power ini mengombinasikan dua sumber energi hijau strategis pada satu area, yakni Waduk Cirata. 

PLTA Cirata mempunyai daya tampung sebesar 1.008 Mega Watt (MW) dan menyandang predikat sebagai PLTA terbesar di Indonesia.

Sementara itu, PLTS Terapung Cirata mengusung kapasitas 192 Mega Watt Peak (MWp), yang memosisikannya sebagai PLTS terapung terbesar di Indonesia sekaligus di wilayah ASEAN sejak resmi beroperasi pada November 2023.

Sripeni Inten Cahyani, selaku Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan (Industri), menuturkan bahwa eksistensi pembangkit hybrid Cirata menunjukkan transformasi signifikan pada sektor kelistrikan nasional menuju ekosistem energi yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan.

Bagi dirinya, kombinasi PLTA dan PLTS terapung tidak hanya memperkokoh ketahanan energi nasional, melainkan juga mendukung target pemerintah dalam meningkatkan porsi bauran energi baru terbarukan.

“Cirata menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan besar dalam mengembangkan energi bersih berbasis inovasi. Kombinasi PLTA dan PLTS terapung ini menjadi model penting dalam pemanfaatan sumber daya energi terbarukan secara efektif tanpa membutuhkan lahan tambahan yang besar,” ujar Sripeni.

Saat melakukan peninjauan di PLTS Terapung Cirata, Sripeni juga memberikan perhatian pada kendala teknis di bagian unit pengapung atau floater yang dipengaruhi oleh biota air endemik di waduk setempat. 

Kendati demikian, pihak operator PLTS, yaitu Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energy (PMSE), diinfokan telah merespons cepat dengan melaksanakan penggantian floater secara berkala.

Proses peremajaan unit pengapung secara menyeluruh ditargetkan selesai pada Agustus 2026. Sripeni memastikan bahwa kondisi tersebut tidak mengganggu jalannya operasional pembangkit sama sekali.

“PLTS Terapung Cirata masih beroperasi dengan normal. Tantangan ini justru dapat menjadi bahan penelitian akademis untuk pengembangan PLTS terapung lainnya di masa depan,” katanya.

Pada momentum yang sama, Direktur Operasi Pembangkit Gas PLN Nusantara Power, Komang Parmita, menyatakan bahwa dukungan dari DEN menjadi pendorong motivasi bagi korporasi untuk terus memperbanyak portofolio pembangkit yang ramah lingkungan di Indonesia.

Menurut Komang, pembangunan wilayah hybrid Cirata merupakan bentuk komitmen PLN NP dalam mendukung agenda transisi energi nasional sekaligus mempercepat realisasi target Net Zero Emission.

“PLN Nusantara Power terus berkomitmen mendukung agenda transisi energi nasional melalui pengembangan pembangkit energi bersih yang andal dan berkelanjutan. Cirata menjadi salah satu bukti bahwa inovasi dan kolaborasi dapat menghadirkan solusi energi masa depan bagi Indonesia,” ujar Komang.

Di samping memproduksi energi listrik yang ramah lingkungan, keberadaan PLTS Terapung Cirata juga menjadi tolok ukur signifikan bagi pengembangan PLTS terapung dalam skala besar di Indonesia. 

Proyek ini diproyeksikan bakal menjadi acuan pengembangan energi terbarukan di berbagai waduk serta area badan air potensial lainnya di seluruh penjuru negeri.

Melalui pengoperasian pembangkit hybrid Cirata ini, PLN Nusantara Power mempertegas kedudukannya sebagai subholding pembangkitan yang tidak sekadar menjaga stabilitas pasokan listrik nasional, melainkan juga berpartisipasi aktif dalam pembangunan energi berkelanjutan di Indonesia.

Terkini