JAKARTA – Inaplas menyambut positif tarif impor LPG 0 persen namun tetap mendesak penambahan kuota gas murah agar efisiensi produksi industri dalam negeri terjaga.
Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia menilai langkah pemerintah membebaskan bea masuk tersebut merupakan angin segar bagi sektor petrokimia.
"Kami menyambut baik kebijakan ini, namun yang lebih krusial adalah kecukupan pasokan gas dengan harga kompetitif untuk bahan baku industri," ujar Sekjen Inaplas Fajar Budiono, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Selasa (28/4/2026).
Fajar Budiono berpendapat bahwa selain insentif impor, pemerintah perlu memastikan keberlanjutan pasokan gas bumi melalui skema Harga Gas Bumi Tertentu agar kapasitas produksi nasional bisa optimal.
Kebutuhan akan gas sebagai bahan bakar maupun bahan baku utama tidak bisa hanya bergantung pada relaksasi tarif perdagangan luar negeri semata.
Sektor petrokimia saat ini tengah menghadapi tantangan besar terkait fluktuasi harga energi global yang memengaruhi biaya operasional secara signifikan.
Pemerintah diharapkan segera meninjau ulang alokasi gas murah mengingat banyak pabrik yang belum mendapatkan volume sesuai dengan kapasitas terpasang mereka.
Kombinasi antara bea masuk nol persen dan jaminan energi murah dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga kedaulatan industri kimia di pasar domestik.
Tanpa adanya dukungan integrasi kebijakan energi, maka manfaat dari pembebasan tarif impor tersebut tidak akan dirasakan secara maksimal oleh para pelaku usaha.
Sinergi antara kementerian terkait menjadi sangat penting guna memastikan kebijakan ini tidak saling tumpang tindih dalam implementasinya di lapangan.